Ibuku yang Selamat
- Jul 29, 2022
- 4 min read
Updated: Jul 30, 2022
Aku akan menceritakan tentang ibuku. Ibuku adalah seorang wanita, yang dinikahi oleh seorang pria yang kini aku panggil dia Abah. Tanpa pernikahan, mustahil sekarang aku bisa memanggilnya Ibu. Dulu sebelum aku ada di dunia, ibuku dan abah bersusah payah untuk bisa menghadirkanku dalam doa dan usaha dengan cara berkasih sayang. Dari Ibu dan Abahku lah aku dibentuk dengan seizin Allah, Dzat yang Maha Pencipta.

Tidak aku ingat bagaimana keadaa di alam rahim sana, seperti apa tempatnya pun aku lupa. Namun itu alam rahim, alam kasih sayang yang dimiliki oleh setiap wanita yang suatu saat nanti akan menjadi ibu, untuk menyimpan sesuatu yang akan tumbuh dari bagian dirinya, yang tercampur dari peran sang ayah dan dari kemurnian ruh yang ditiupkan Allah pada bulan ke empat.
Waktu di alam rahim sana, aku tidak memakai baju, celana atau apapun. Aku telanjang bulat dan aku tidak perlu malu, karena ibuku melindunginya dengan pakaian yang dipakainya selama ini. Aku juga tidak perlu mencari pekerjaan atau uang untuk makan. Percayalah ibuku selalu mengirimkan berbagai jenis makanan untukku di alam rahim sana. Ibuku juga tidak perlu mencari pekerjaan untuk makan, karena sudah diwakili oleh Abahku. Abahku juga tidak perlu merasa repot serta risau dalam mendapatkan uang dan makanan, karena selalu memintanya kepada Allah, dan itu adalah yang halal serta baik.
Ibuku dulu suka mual-mual saat aku pertama kali hadir di rahimnya, bukan karena merasa jijik denganku, tapi karena utk pertama kali baginya ada sesuatu yang hadir di dalam perutnya. Ibuku bilang, aku mulai ada di rahimnya saat dia sedang menghadapi ujian akhir di sekolahnya. Waktu itu ibuku kelas 3 SMA dan sudah menikah.
Sewaktu di alam rahim aku sering tidur dan akan bangun jika ingin menendang. Percaya atau tidak, manusia sudah bermimpi ketika di alam rahim, mimpi yang pertama kali adalah memimpikan detak jantung, dan itu adalah detak jantung sang ibu. Pasti sekarang kita sudah lupa. Iya kan? Mimpi itu adalah sesuatu yang mudah dilupakan. Tidak percaya? Coba ingat-ingat lagi mimpi kita seminggu yang lalu, apakah kita masih bisa mengingatnya? Lupa kan?
Aku menetap di rahim ibuku selama sembilan bulan. Bukan karena bosan, tapi memang sudah seharusnya seperti itu. Itulah hari kelulusanku dari rahim ibuku, hari kelulusan itu disebut dengan hari kelahiran. Disambut dengan suka cita oleh siapapun yang ada di dunia, terlebih ibu dan abahku. Karena mereka senang melihatku berhasil dan lulus.
Pertama kali lulus, aku disimpan di atas pelukan ibuku, dan semenjak hari kelulusan itu lah aku mulai bekerja, mencari sumber makanan yang di titipkan Allah melalui ibuku, itu adalah air susu. Sesuatu hal yang hebat ketika aku lulus dari rahim ibuku adalah bahwa aku mengetahui ternyata aku tidak mengetahui mengenai apapun. Disanalah aku mulai belajar. Belajar bagaimana cara mengeluarkan ASI dari ibuku, belajar mendengar, belajar menangis, belajar melihat, belajar berbicara, belajar berjalan dll. Ibu dan Abahku senang dan bangga kepadaku meskipun aku tidak tahu apa-apa. Aku jadi mersa senang, karena tidak disebut bodoh oleh mereka yang ada di sekitarku. Mereka maklum, karena aku bayi.
Kemudian aku tumbuh dan banyak bertanya mengenai dunia kepada ibuku, juga kepada abahku. Bahwa bagaimana aku harus bersikap ketika melihat dan mengalami sesuatu yang terasa baru untukku. Oh kalian harus tau, ibuku itu hebat, selain mempunyai rahim, dia juga mempunyai surga, dan itu berada di telapak kakinya. Abahku tidak punya, yang Abahku bisa lakukan adalah menjaga surga tersebut agar tidak hilang dari kaki ibuku. Aku tidak bisa menjadi seperti ibuku, karena aku seorang lelaki. Mungkin itu bisa diwakili oleh adiku yang perempuan, yang sebentar lagi akan memiliki surga di telapak kakinya. Penjaganya adalah suaminya yang pernah aku ospek ketika pertama kali mereka menikah. Tiba-tiba aku dihinggapi keinginan segera menjadi seorang penjaga surga di telapak kaki seorang perempuan.
Kemudian aku harus tumbuh dan tidak bisa selamanya menjadi bayi yang serba dimaklumi ketika tidak tahu apa-apa. Aku menjadi remaja, setelah aku bermimpi yang tidak bisa aku ceritakan. Itu adalah ketika semua urusan menjadi tanggung jawabku. Oh, semua perubahan selalu ditandai dengan mimpi. Dulu di alam rahim sana pertama kali bermimpi adalah degub jantung ibuku, kemudian saat remaja bermimpi yang membuat jantungku berdegub-degub. Mimpi itu adalah hasrat kehidupan.
Dari lingkungan aku mulai tahu, bahwa pria dan wanita bisa saling mencintai. Mulai saat itu lah aku tertarik kepada lawan jenis. Dari waktu ke waktu aku mempunyai kekasih, mulai dari cinta monyet sampai cinta gorila. Aku jadi tahu kalau wanita selalu meminta kita untuk membuat laporan, dimana pun kita berada, dan apa yang sedang kita lakukan, adalah hal yang harus diberitahukannya. Jika kita pria lupa laporan maka wanita akan kecewa.
Mereka selalu bertanya banyak untuk mengetahui tentang kita, tidak rela membiarkan kita jauh darinya. Aku jadi tersadar, jika kekasih kita yang tidak melahirkan kita, dan baru cinta beberapa saat saja, tidak bisa jauh dan ingin selalu tahu tentang kita. Apalagi Ibu kita yang sudah jelas melahirkan dan sudah lama mencintai kita, jauh sejak dalam kandungan, yang terdapat dalam diri kita darah dan dagingnya, tentu saja tidak ingin jauh dan selalu ingin lebih tahu. Namun kita sering mengabaikannya dan merasa bisa jauh darinya, lupa laporan, lupa memberi tahu tentang kita yang sedang tumbuh, bahkan terkadang lupa mengunjunginya. Hebatnya ibu kita tidak pernah marah dan meminta putus gara-gara tidak begitu, kita tahu, itu adalah kekuatan cinta, yang bisa memaafkan segala kesalahan yang diperbuat terhadapnya. Aku berlindung kepada Allah yang maha menyanyangi dan maha bijaksana, yang menititpkan aku di dalam rahim seorang Ibu.
Ibuku itu bukan orang yang suka tidur terlalu malam, namun akhi-akhir ini ibuku sering tidur amat malam, itu gara-gara menunggu Mas Bram dan Mba Hana main. Semoga Mas Bram dan Mba Hana nanti tidak main malam-malam, siang hari saja lah mainnya, biar ibuku bisa tidur seperti sedia kala.
Ibuku adalah guru ngaji, yang dulu setiap aku nakal akan dibicarakan tetangga di forum-forum gosip. Anak guru ngaji selalu dituntut tampil sempurna bak malaikat oleh ibu-ibu yang lainnya. Ibu mana yang tidak marah ketika anaknya disalahkan, makanya waktu itu ibuku marah padaku, tapi tidak terlintas dibenaknya sedikitpun untuk mengutukku menjadi batu seperti Malin Kundang.
Kemudian dulu ketika aku nakal, Ibu-Ibu kawanku melarang anak-anaknya bermain bersamaku. Karena menurut mereka aku lah yang menyebabkan mereka nakal. mereka ibu yang baik sehingga tidak mau menyebut anaknya nakal. Bagiku, siapapun, seorang ibu, menghendaki anak-anaknya untuk menjadi baik. Mengajarkannya menyikapi kehidupan, menjaga dan melindunginya, seperti dalam rahimnya dulu. Tidak peduli seberapa tua anaknya. Bagi seorang ibu dia adalah anaknya yang dulu bayi dan harus dilindunginya sampai kapanpun.
Terimakasih Ibu, sudah menjagaku dari sejak dahulu kala sampai nanti yang akan datang. Terimakasih ibu, sudah memberi uang jajan dan mengurusku sampai menjadi orang hebat. Aku tidak mungkin lahir jika tidak ada seorang ibu. Selamat Hari ibu, dan itu adalah selamanya, tidak ditentukan waktu.
Bandung, 22 Desember 2014
di hari Ibu




Comments