Keberatan
- Aug 22, 2022
- 7 min read
Hari ini panas, karena ini siang. Jika dingin, berarti itu malam menjelang subuh. Tapi Bandung hari ini sedang panas saat Noorshi mengajakku ke perpustakaan di daerah Kawaluyaan, namanya BAPUSIPDA. Noorshi sudah pergi duluan, mungkin dia sudah tidak sabar ingin segera sampai di sana sehingga tidak mau menungguku. Tapi tidak apa-apa, karena aku pun harus membersihkan kosan dulu, cuci piring, cuci gelas, cuci sendok, cuci lantai, cuci dinding, cuci kasur, cuci pintu, cuci jendela, cuci tangan, cuci kaki, cuci badan, cuci mulut dan cuci mata. Aku lakukan itu supaya terlihat rajin saja, bersihnya mah itu bonus.

Setelah semua itu aku selesaikan, aku beranjak pergi ke sana, ke tempat Noorshi dengan setia menungguku. Tapi tiba-tiba aku lapar. Maka aku makan dulu di si Teteh. Kalian harus tau si Teteh itu namanya Lastri. Sudah punya anak dua, dan punya suami satu. Dia menjual makanan bagi orang yang kelaparan. Para mahasiswa biasanya suka makan disana, karena bisa menggunakan kartu kredit untuk makan. Tinggal gesek kemudian dibayar nanti. Tapi anak-anak kosan senang menyebutnya sebagai hutang. Aku juga melakukan hal tersebut, biar terlihat keren, makan pakai kartu kredit. Menu yang disajikan pun konsisten, jarang berubah. Ada telor, bihun, orek tempe, sosis, dan sayur sop. Hari itu aku makan telor dan sosis. Supaya terlihat makanan eropa. Agar terlihat nasionalis juga, aku tambahkan nasi untuk menemaninya.
Setelah usai makan, dengan langkah yang cepat aku pergi ke tempat angkot. Aku tidak mau Noorshi menunggu terlalu lama, takut dia tidak sabar bertemu aku. Jadi langkahku juga harus cepat. Naik angkot yang bisa cepat juga. Angkot yang menggunakan NOS kaya di film Fast to farious. Tadinya aku mau ngomong sama supir angkotnya, "Mang kalau ini pake yang kilat gak? Aku mau pake yang kilat aja, biar lekas sampai" Kan surat juga kalau kilat cepat sampainya. Tapi supir angkotnya sudah tahu, bahwa aku buru-buru. Maka ia mengemudikan angkot seperti pembalap.
Aku turun dari angkot. Oh iya, kalau di indonesia password untuk turun itu "kiri". Itu code yang disepakati penumpang dan pengemudi agar terlihat elegan dan profesional. Meskipun ibuku suka mengajarkan untuk pakai kanan, tapi untuk urusan angkot aku lebih setuju "kiri". Untuk menuju tempat dimana Noorshi sudah menunggu, aku harus berjalan menuju komplek kawaluyaan. Karena tempatnya tidak dipinggir jalan. aku kira kalau tempatnya berada dipinggir jalan nanti akan dibubarkan satpol PP. Tapi ternyata tidak, bukan dipinggir jalan karena dapat tanah untuk membangunnya di sana, di dalam komplek.
Aku berjalan penuh kebimbangan. Karena sudah lama dia menunggu di sana. Perempuan kalau disuruh menunggu akan marah. Karena memang perempuan tidak suka menunggu. Perempuan menginginkan lelaki yang cepat untuk melakukan sesuatu, cepat mendapat uang, cepat kaya, cepat datang kalau dipanggil, cepat mau kalau disuruh, dll. Kecuali cepat ketika berhubungan, baru itu perempuan tidak suka.
Akhirnya aku sampai di depan gedung BAPUSIPDA. Aku tidak langsung masuk ke dalam gedung. duduk di tempat parkiran supaya aku mengetahui keadaan. Supaya bisa lebih mengenal medan. Hanya sepuluh menit aku berada diluar, tapi agar membuat Noorshi tenang, aku sudah memberi kabar bahwa aku sudah sampai di depan gedung. Alhamdulilah, dia tenang dan senang aku sudah sampai. Kemudian memberi tahu tempatnya duduk yang berada di lantai dua. Dia menyayangiku, supaya tidak kesasar di gedung itu.
Aku pun masuk untuk menghindari dia menungguku. Masuk menuju lantai dua dengan menggunakan tangga berjalan. Keren, tangganya berjalan akunya diam. Ah, tidak olahragawi, padahal menaiki tangga kita bisa sehat. Sesampainya di lantai dua aku melihat perpustakaan dengan tulisan di atasnya "RUANG BACA UNTUK DEWASA". Aku penasaran ada apa di dalamnya, apakah ada majalah dewasa? Artikel-artikel dewasa? Ah sepertinya nanti aku harus masuk dan membaca di sana, tapi sekarang harus menuju Noorshi terlebih dahulu, itu lebih penting.
Noorshi sedang duduk di atas sofa berwarna hijau. Aku hampiri dia dan memberinya salam. Noorshi kemudian tersenyum dan kembali fokus kepada laptopnya. Mungkin dia marah karena menungguku, sehingga aku dibiarkannya. Aku pun duduk dan membuka laptop. Kami berdua, tapi saling diam dan berfokus kepada laptop masing-masing. Tapi aku yakin kali ini dia sudah tidak marah, karena memberikan carger laptopnya untuk menghidupi laptopku yang batrainya sudah jelek. Oh indahnya berbagi carger, bisa meredakan suasana marah.
Satu jam sudah berlalu, kemudian dia menutup laptopnya. Dia memandangiku yang sedang main laptop. Kalau dia tidak memandangiku berarti aku tidak kelihatan. Tapi aku yakin aku terlihat olehnya. kemudian aku pun menutup laptop untuk bisa sama dengan dirinya. Supaya bisa berbincang-bincang dan tidak saling diam. Kalian tahu apa yang kami perbincangkan? Lebih baik aku rahasiakan, karena itu urusan keluarga. jadi aku lewati bagian dimana kami berbicara masalah keluarga.
Dia kaget ketika melihatku membawa tas. Wajar saja kaget, karena dia sudah tahu kalau masuk ke tempat tersebut tidak boleh membawa tas. Aku jadi ikutan kaget, ini mah supaya bisa menemaninya kaget saja. Tidak ada security yang menghentikan atau memarahiku karena membawa tas. Mungkin mereka malu kalau marah. Karena security diadakan untuk menajaga kemanan bukan untuk kemarahan. setelah Noorshi kaget, dia menakutiku kalau aku akan dimarahi oleh security pas pulang nanti. Tapi aku tidak takut, karena aku yakin security itu untuk keamanan bukan kemarahan.
Noorshi juga memberti tahuku kalau dia ke sini tidak sendiri. Dia ditemani oleh tiga temannya. Maka kami pun menunggu tiga temannya keluar dari ruang baca dewasa. Aku mau su'udzon, habis baca apa mereka dari ruang baca dewasa. Tapi tidak jadi su'udzonnya, karena mereka sudah dewasa. Aku bisa melihat dari wajah mereka yang keibuan. Mereka keluar dari ruang baca dan duduk ditempat yang berbeda dengan kami. Mungkin karena mereka malu ada aku disana, malu karena ketahuan keluar dari ruang baca dewasa.
Aku dan Noorshi pun pergi ke tempat mereka duduk untuk mengajak pulang. Tapi sebelum pulang kami berbincang-bincang dulu sebentar, berkenalan jurusan masing-masing. Tapi tidak menyebutkan nama masing-masing. Mungkin supaya terlihat misterius dan rahasia. Namun akhirnya aku tahu, tiga temannya itu bernama, Irma, Eva, dan yang satu lagi aku lupa.
Kami berempat pulang, dan untuk bisa pulang kami harus keluar dari gedung tersebut. Saat menuju jalan keluar aku teringat dengan perkataan Noorshi, kalau security itu akan marah karena aku membawa tas ke atas. Untuk membuktikan hal tersebut aku keluar mendekati security. Anehnya mereka tidak marah. Tuh kan, aku yakin mereka tidak akan marah. Ah Noorshi terlalu paranoid.
Kami pulang menelusuri jalan untuk bisa sampai ke tempat angkot. Aku beritahu pasword agar angkot bisa berhenti, kamu tinggal acungkan telunjukmu ke arah angkot. Maka angkot tersebut akan berhenti. Kamu tahu apa sebabnya? Itu karena sudah menjadi kesepekatan anatara penumpang dan pemngemudi juga. Seperti halnya menyebut "kiri" jika ingin turun.
Kami menaiki angkot hijau jurusan Cicadasi-Cibiru. Aku sebenarnya takut, karena pada waktu itu hanya aku penumpang laki-laki satu-satunya yang berada di angkot. Aku takut dipekosa di sana. Syukurlah, tidak lama kemudian ada penumpang lelaki juga yang naik. Jadi aku aman dari yang aku takutkan. Angkot malaju normal, tidak terlalu cepat dan juga tidak terlalu pelan. Karena itu sore hari yang harus dinikmati oleh banyaknya kendaraan yang hampir melebihi kapasitas jalan.
Di Cibiru kami pun turun. Seperti biasa aku tinggal menyebutkan password "kiri", dan angkot pun berhenti. Kami berjalan menuju kosan. Tepatnya aku mengantar mereka dan Noorshi ke kosannya. Karena aku takut mereka tidak sampai kosan dengan nyaman. Namun Irma, ingin pergi dulu ke ATM untuk mengambil uang. Aku, Noorshi, dan Eva menunggu di ATM. Oh iya lupa aku ceritakan, kawannya Noorshi yang aku lupa lagi namanya itu sudah pulang duluan di jemput oleh pacarnya menggunakan motor, kepergiannya diiringi oleh ucapan kami, "adeuuuhh,, adeuuuuh..adeuuuuhh." Itu juga kode, supaya mereka terlihat sebagai seorang kekasih.
Setelah Irma selesai mengambil uang, kami pergi ke tujuan awal kami, yaitu menuju kosan. Tapi Irma tergoda untuk masuk tempat Herbal Life, namanya Cibiru klub. Ternyata disana itu tempat berjualan minuman herbal bernutrisi tinggi sesuai kebutuhan tubuh yang dapat menyehatkan. Mereka mau di cek, dan itu gratis. Kami pun masuk kesana dan memeriksa keadaan kami. Karena alatnya belum datang, maka kami pun tidak bisa diperiksa dan dipersilahkan menunggu. Agar menunggunya nyaman, Teteh yang bekerja di klub tersebut memberi kami teh herbal. Katanya itu untuk menambah stamina. Aku minum dan habiskan teh tersebut. Benar saja staminaku bertambah, aku bisa mengangkat kursi yang terbuat dari plastik yang sedang aku duduki. Rasanya ingin mencoba mengangkat Noorshi untuk membuktikan khasiat teh tersebut. Tapi malu, nanti disangkanya pamer. Mentang-mentang punya yang bagus, sampe diangkat-angkat.
Akhirnya alat yang kami tunggu-tunggu pun datang. Dan segera kami diperiksa. Aku tidak akan menjelaskan secara detail bagaimana hasilnya, karena itu sensitif bagi wanita. Yang jelas mereka terlalu keberatan, sedangkan aku terlalu keringanan. Tapi aku senang umur organku lebih muda 10 tahun dari umurku. Terlihat awet muda. Tapi ternyata setelah dijelaskan itu tidak baik juga. Tapi tidak apa-apa. Aku berpikir positif saja.
Setelah kami dianalisis oleh ibu pemilik Herbal Life, yang ternyata dosen ditempat kami kuliah, kami jadi tahu apa yang tubuh kami butuhkan. Panjang lebar ibu terbut menjelaskan kepada kami, sehingga tidak terasa magrib pun tiba. Kami harus berpamitan, karena kami tidak mau menginap disana.
Dalam perjalanan pulang Irma dan Eva mampir di tempat makan. Sedangkan aku dan Noorshi mampir di tempat jus. Noorshi mentraktirku minum jus. Tadinya mau aku yang bayar. Tapi Noorshi menghalangi niat baikku. Mungkin dia tidak mau kalau aku menyimpan jasa dengan mentraktirnya jus. Sehingga dia nanti tidak bebas terhadapku. Kalian sudah tahu kan, hutang yang tidak bisa dibayar itu hutang jasa. Nah Noorshi tidak mau seperti itu. Padahal aku mau membayarkan jusnya bukan karena dia ingin punya hutang jasa tethadapku. Tapi supaya si penjual jus tidak marah karena jusnya tidak dibayar. Ya sudah tidak apa-apa biar Noorshi yang bayar. Mungkin dia senang membayar.
Setelah semua selesai, kami pun pulang menuju kosan. Aku mengantar mereka bertiga ke kosan yang sama. Karena mereka satu kosan. Jadi aku tidak bisa mengantarnya ke tempat kos yang berbeda. Setelah aku antar mereka, aku pun pulang menuju ke kosan. Sayang kosan kita berbeda, kalau saja sama tidak perlu repot untuk berjalan kembali melewati kampus dan meloncati benteng kampus untuk menuju kosan saudaraku.
Akhirnya aku sampai dan aku lapar. Maka aku makan di si teteh lagi, dengan menu yang sama sepertti tadi siang. Karena menu yang disajikan cukup konsisten dan tidak pernah berubah-rubah. Terimakasih Noorshi, terimakasih Irma, terimakasih Eva, dan terimakaih satu lagi temannya yang aku lupa namanya. Apapun itu semoga kesenangan milkik kita. Mari kita makan dan menikmati hidangan seadanya.
Bandung, 07 Mei 2014
Dikamar Kosan Bukbis




Comments