top of page
Search

Makan di Korea

  • Jul 30, 2022
  • 6 min read

Ini sabtu siang aku bersama Tami pergi ke Korea. Kalian tahu Tami? Tami adalah kawanku dari luar kota, yaitu kabupaten. Dia adalah seorang wanita, aku tahu dia seorang wanita karena dia tidak memakai celana, tapi memakai rok. Selain itu, dia memakai kerudung. Bajunya berwarna kuning yang tidak konsisten, karena cenderung berwarna krem. Celana dan kerudungnya berwarna hitam. Dalaman bajunya juga berwarna hitam, aku tahu karena itu cuma tebakan yang bisa jadi salah. Memakai jam tangan yang ada kumisnya. Memakai lipstik berwarna merah redup seperti lampu lima watt. Memakai lensa mata, mungkin lensanya jenis Tele, jadi supaya bisa melihat benda jauh.


Tapi itu kawanku Tami yang mengajakku untuk menemaninya pergi ke Korea. Aku harus mau, karena kalau membantahnya nanti aku menjadi teman yang durhaka. Bisa-bisa Tami mengutukku menjadi batu, terus nanti kalau aku jadi batu dia akan menjualnya di pinggir jalan, terus nanti dia gosok-gosok aku yang menjadi batu di hadapan orang. Ah tidak Tami, lebih baik aku menemanimu, dari pada harus menjadi batu yang kau jual. Aku manusia yang tidak bisa dibeli, jangan manfaatkan aku sebagai kepentinganmu. Maka dari itu aku menemaninya.


Kalian tahu kenapa Tami mengajakku ke Korea? Itu karena kami berdua hanya ingin makan. Biasa lah, Tami kalau makan maunya di Korea. Kaya sekali dia, atau mungkin sudah bosan dengan makanan yang ada di indonesia, sehingga harus pergi ke sana. Ah entahlah, aku juga tidak tahu. Kenapa Korea sungguh berarti baginya? Mungkin Tami sudah merasa bagian dari Korea, atau mungkin suka dengan suasananya.


Sesampainya kami di tempat makan yang aku lupa lagi nama tempatnya, kami di sambut oleh seorang pelayan sambil mengucapkan bahasa Korea. Kemudian Tami menerjemahkannya padaku, bahwa yang diucapkan oleh pelayan tadi adalah "selamat datang". Aku seperti turis saja, sedangkan Tami yang jadi guidenya. Tami bisa berbagai bahasa. Sebenarnya aku juga bisa berbagai bahasa, bahasa indonesia, bahasa sunda, bahasa tubuh, bahasa hati, dan bahasa-bahasi, tapi untuk bahasa korea aku belum bisa, maklum malamnya gak belajar. Terimakasih Tami sudah menerjemahkan, nanti main ke rumahku, ada kucing yang tidak aku mengerti bahasanya, mungkin kau bisa menerjemahkannya supaya kami bisa berkomunikasi dan akrab.


Kami pun duduk di meja paling pojok dekat jendala. Di luar tampak jalan banyak mobilnya, mungkin lalulintas sedang padat, maklumlah hari sabtu. Cuacanya pun sedang mendung, maklum juga sedang musimnya. Pelayan lelaki mendatangi kami sambil membalikan tablet. Tablet itu tidak bisa dimakan atau mengobati, karena yang aku maksud bukan obat tablet. Tetapi itu barang elektronik yang orang pakai untuk menjadi khusyu menikmati kesendiriannya. Tablet itu adalah yang menjadi buku menunya. Keren, di korea buku menu pakai tablet segala. Di tablet tersebut tertera menu pilhan makanan, minuman, menu untuk request lagu, menu untuk berfoto. Canggih sekali korea, di Indonesia masih menggunakan kertas. Tapi aku lebih suka buku menu di Indonesia, tidak harus di charge dan juga tidak perlu listrik.


Tami memilih duduk di sofa panjang, sedangkan aku duduk di depannya. Aku tidak mau disisinya, takut diapa-apakan sama dia. Maklumlah, aku tidak nyaman jika dia pegang-pegang, karena bukan muhrim, meskipun sebenarnya ingin. Tapi jangan, ini demi menjaga kita sebagai manusia yang suka khilaf. Kemudian Tami membuka menu makanan di tablet tersebut,

"Upe, kamu mau makan apa?" Katanya sambil menggeser-geser menu.

"Ah yang penting ada Nasinya, Tam" jawabku.

"Ini mau?" Sambil menunjukan menu bergambar semangkuk nasi yang diatasnya ada telor ceplok, wortel, bayam, bawang bombai dan daging cincang.

"Pedes ga?" Tanyaku lagi.

"Engga". Jawab Tami.

"Oh iya, udah apa ajalah. Yang penting ga pedes sama ada nasinya. Kalau udah di perut mah sama, keluarnya pun sama" kataku.

Setelah mendengar itu Tami memandangku dengan tatapan jijik. Padahal seharusnya yang jijik bukan akunya, tapi hampasnya. Mungkin dia jadi membayangkan aku yang sedang.

"Minumnya apa, Pe?" Tanya dia kembali.

"Air aja, Tam, minumnya" jawabku.

"Iya air apa? Tuh ini lihat" katanya sambil menunjukan gambar berbagai jenis minuman yang tertera dilayar tablet.


Kemudian aku melihat pisang coklat susu yang dijadikan minuman. Aku tertarik. Tapi tidak jadi, meskipun Tami sudah mengatakan kalau itu enak, ada pisangnya. Tapi aku takut setelah makan pisang berubah menjadi monyet. Nanti Tami membenarkan teori Darwin. Padahal itu cuma ketakutanku saja. Tami memang suka pisang, dia mengaku bukan hanya penyuka pisang, tapi juga mempromosikan orang-orang untuk makan pisang. Aku lebih senang menyebutnya SPG pisang. Tapi anehnya Tami malah memilih minuman yang memaki jeruk lemon. Ah SPG pisang tidak konsisten, katanya suka pisang, tapi malah minuman berbumbu jeruk, jadi saja aku memesan minuman yang sama karena bingung.


Akhirnya aku tidak lagi dibingungkan dengan pilihan menu makanan, karena sudah dipesan melalui tablet, dan langsung masuk ke tablet di kasir sana untuk segera dihidangkan. Tidak menunggu lama pelayan datang membawa pesanan. Menyimpan dua mangkok besar nasi, dan dua minuman.


Ah ini aku, yang ditawari Tami mau pake sendok atau sumpit. Tapi dia langsung mengambilkan aku sendok. Aku minta sumpit, tidak mau sendok. Di indonesia juga sering makan pake sendok mah, ini waktunya pake sumpit, biar makannya penuh perjuangan, karena susah. Kalian tahu, ternyata makanan itu panas, mungkin sedang sakit. Kalian tahu juga, ternyata minumannya itu dingin, mungkin minuman yang kemarin. Tapi tetap kami nikmati sambil mengobrol.


Kami mengobrol masalah apapun yang bisa dibicarakan. Obrolan tentang pernikahan pun kami bicarakan. Karena Tami sebentar lagi akan menikah. Tami dan calon suaminya sudah lama pacaran, sudah 5 tahun lamanya. Waktu yang cukup lama untuk mengganti status. Di facebook saja tiap jam bisa mengganti status, masa pacaran selama 5 tahun tidak bisa mengganti status sih. Hebat Tami bisa berpacaran begitu lama, mungkin memakai pengawet. Tapi obrolan mengenai pernikahan tidak begitu lama, karena aku suka jadi ingin juga. Kalian tahulah aku tidak mau membicarakan bagaimana bulan madunya, karena Tami pun sudah tahu harus seperti apa. Itu bukan hal yang harus dibicarakan dengan sembarang orang, karena itu adalah sesuatu yang harus dipraktekan dengan orang yang bukan sembarang.


Tami juga berbicara mengenai sekolahnya dulu yang dirinya banyak ditembak oleh guru-gurunya. Tami tidak mati meskipun sudah ditembak, bukan karena sakti, tapi karena ditembak menggunakan kata-kata sebagai permintaan untuk menjadi kekasih mereka. Tami tidak mau, dan menolak para gurunya, karena Tami ke sekolah untuk belajar bukan menjadi pacar gurunya. Aku pikir gurunya salah strategi, seharusnya jangan meminta-minta, apalagi minta cinta, tapi memberi. Bukan memberi barang atau uang, berilah kenyamanan untuknya saat bersama dia, sehingga dia akan mencari untuk suatu saat yang belum bisa dipastikan.


Kalian tahu kenapa Tami menceritakan semua itu padaku? itu karena dia aku paksa untuk bercerita. Karena kalau tidak, kita tidak ada topik untuk dibicarakan, dan berakhir dengan kesunyian. Tami juga bercerita mengenai dirinya yang suka pulang larut malam. Kenapa tiba-tiba saat itu aku jadi tidak suka dia pulang larut malam ya? Oh itu karena aku takut dia disangka kunti, perempuan yang suka berkeliaran di malam hari. Atau aku tidak ingin dia dianggap rondawati yang bertugas berkeliaran di malam hari menjaga rumah sambil memukul-mukul tiang listrik. Kasian, tiang listrik itu tidak bersalah, malah dipukul-pukul.


Kalian tahu, Tami juga bercerita dirinya yang tidak suka rokok. Kenapa tiba-tiba aku jadi ingin merokok ya? Oh mungkin biar dia tahu bahwa barang yang tidak disukainya aku bakar, supaya musnah menjadi abu. Sebenarnya aku juga mau cerita yang sama ke Tami, kalau aku tidak suka rokok, aku lebih suka lawan jenis. Tapi aku tidak ceritakan, nanti dia merasa tersinggung dan dianggap melawan.


Ya, Inilah kami sekarang yang sudah selesai menghabiskan makanan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan Tami yang menawariku makan pisang yang dibekalnya dari kosan. Aku jawab tidak mau pisang, karena laki-laki sudah punya. Tami kecewa, karena pisang pemberiannya aku tolak. Maaf Tami, harap kau mengerti. Mungkin lain kali, karena sekarang sudah kenyang.


Aku pun mengajaknya pulang karena itu sudah sore. Tami segera pergi ke kasir dan membayar makanan. Aku melarangnya biar aku saja yang bayar, tapi dia cekatan dan langsung mengeluarkan uang. Tami kau harus tahu, aku bukan lelaki bayaran, yang bisa seenaknya saja kau bayar. Tapi sudah tanggung Tami yang bayar, dan uangku senang, tidak jadi di DO olehku dari dompet. katanya, “nanti saja kalau pergi lagi, kamu yang bayar”. Yess, akhirnya nanti aku balas, biar tau rasanya jadi perempuan bayaran.


Kami keluar dari tempat makan, pelayan mengantar kami keluar. Kemudian aku jadi ingin bersikap ramah, dan berbicara bahasa Korea kepadanya, "sarang heo (aku tidak tahu bagaimana menulisnya)" pelayan itu pun tertawa. Kemudian di susul oleh Tami yang ikut tertawa juga. "Upe, itu artinya cinta" kata Tami sambil tertawa. Aku kira itu artinya terimakasih. Ah biarin.


Tami dan aku pulang naik angkot dari korea. Angkot jurusan Cibaduyut-Karangsetra. Kalian jangan kaget kenapa di Korea ada angkot, itu bukan Korea sesungguhnya. Itu rumah makan Korea yang ada di salah satu Mall Bandung. Bukan Korea asal film Full House, tapi korea yang hadir di Indonesia dengan makanannya. Korea hebat, sudah mengutus rumah makannya ke Indonesia, mungkin yang lainnya akan menyusul. Sehingga indonesia menjadi Korea.


Tidak usah aku ceritakan bagaimana kami di angkot dalam perjalanan pulang. Karena nanti aku capek nulisnya. Sudah sampai sini saja aku ceritakan tentang Tami dan aku di Korea. Semoga indonesia juga mengutus makanannya kesana. Sehingga Korea juga bisa tahu kalau Indonesia ada dan memiliki banyak makanan yang lezat.

Bandung, 7 Maret 2015

Sehabis pulang dari Korea

 
 
 

Comments


IMG_0242.JPG

Hi, Terimakasih
sudah mampir

Terimakasih sudah membaca. Mudah-mudahan menyenangkan dan tidak ngantuk :)

Let the posts
come to you.

Thanks for submitting!

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Pinterest

Let me know what's on your mind

Thanks for submitting!

cumacerita

bottom of page