Lupa dan Menghilang
- Aug 1, 2022
- 7 min read
Siang itu terang dan dalam kondisi sebagaimana semestinya yang panas. Ada aku yang sedang duduk memakai baju, juga celana, sepatu, membawa tas, dan memegang sebotol air mineral. Sedangkan di sana banyak lewat mahasiswa-mahasiswi yang baru pulang kuliah. Setiap mereka lewat di depanku, mereka melihatku dengan wajah yang penuh iba. Mungkin mereka pikir aku gila, karena selalu ngomong sendiri. Mereka mah tidak tahu, ngomong sendiri itu bukan gila, tapi jentel, masa harus diwakilin sih kalau ngomong. Ya harus sendiri atuh ngomong mah. Masa aku harus minta tolong sama orang yang lewat untuk ngomong “panas” karena sedang panas cuacanya. Sendiri aja lah ngomongnya, kan mandiri.

Diantara yang lewat itu salah satunya ada yang aku kenali, Kalian tahu mengapa aku kenal? Karena aku tahu mereka adalah orang Thailand yang dulu pernah aku main ke sekretariat perkumpulannya, untuk mewawancarai mereka dengan menggunakan bahasa indonesia. Tadinya mau pakai bahasa inggris, tapi aku terikat sumpah pemuda, “Bahasa kita satu, bahasa indonesia”. Jadi mereka terpaksa mencoba memahamiku yang terikat sumpah pemuda yang berbicara menggunakan bahasa indonesia. Alhamdulilah, mereka juga bisa mengerti, setelah aku mengatakan ada subtitle di bawah. Kalau subtitlenya jelek, aku suruh download lagi yang hasil terjemahan “Penakatsuki” atau “lebahganteng”, biasanya lebih bagus. Tapi itu tidak penting, karena mereka sudah mengerti tanpa melihat subtitle. Mereka pengertian sekali.
Oh iya, kalian harus memahami kenapa aku duduk sendiri di pinggir jalan sambil panas-panasan. Sebenarnya aku sedang menjemput kawanku di kosannya yang tepat berada di sebrang tempat aku duduk. Aku harus menjemputnya bukan karena biar romantis, tetapi lebih karena dia tidak tahu dimana letak kafetaria kampus, meskipun sebentar lagi dia akan lulus di kampus yang ada kafetarianya itu. Ironis sekali sudah empat tahun kuliah disana, tapi tidak tahu letak kafetarianya. Kayaknya gka suka jajan di kampus, jadi gak tahu. Jangan-jangan cuma alasan supaya bisa aku jemput. Ah entah lah, tapi yang jelas kalau kami langsung bertemu di kafetaria kampus maka akan timbul dua kemungkinan, dia yang menunggu aku, atau aku yang menunggu dia di kafetaria yang banyak orang itu, sedangkan dia tidak suka keramaian, apalagi jika sambil menunggu. Makanya dia ingin datang bersama-sama ke kafetaria.
Nama kawanku itu Noorshi, katanya sih wanita. Meskipun sebenarnya aku belum yakin dia wanita, harus di cek dulu. Tapi aku takut, takut disangka kepo karena ingin tahu lebih dalamannya. Ya sudah, aku coba percaya kalau dia wanita. Noorshi aku temui untuk digunakan menjadi narasumber dalam tulisanku. Makanya harus bertemu, tidak bisa tidak. Noorshi yang tidak suka keramaian itu dulu pernah aku suruh diam di WC biar dia tahu kalau di dalam WC dia akan sendirian. Tapi dia bilang aku aneh. Justru dia yang aneh, katanya tidak suka keramaian, disuruh diam di WC tidak mau, padahal WC kan tempat menyendiri. Gak ada yang ke WC banyakan, pasti sendirian. Kalau ada WC yang banyak orang, itu namanya WC umum, WC yang bisa dipakai banyakan.
Aku masih menunggu bersama panas selama empat puluh lima menit. Setelah itu aku lihat dia keluar dari kosannya membuka pagar yang ada gemboknya. Dia keluar memakai baju, memakai rok, memakai kerudung, dan membawa tas. Ah, rencanaku gagal untuk memastikan dia seorang wanita. Aku kira dia keluar tidak akan memakai baju, sehingga aku bisa tahu kebenarannya. Tapi tidak apa-apa, lain kali akan aku selidiki. Dia keluar kemudian pergi tidak menghampiriku yang sudah menunggu empat puluh lima menit bersama panas. Asalnya aku mau terkejut karena dia tidak melihatku, tapi tidak jadi. Karena aku tahu, aku tidak bisa menghilang, dia hanya tidak melihatku duduk.
Aku ikuti dia dari belakang. Sengaja tidak aku panggil dia, supaya dia tidak tahu sebenarnya aku ada dibelakangnya yang mengendap-ngendap seperti seorang agen rahasia. Kamu harus tahu rencanaku waktu itu,aku akan datang tiba-tiba dari belakang dan mengambil tasnya kemudian lari. Aku yakin dia akan kaget dan berteriak maling, kemudian aku dikutuk olehnya menjadi batu karena menjadi maling, seperti maling kundang. Tapi tanpa disangka-sangka dia mengetahui keberadaanku. Ah, gagal.
Sekarang giliran dia yang terkejut karena tidak melihatku dari tadi. Dia malah bertanya-tanya darimana tadi aku. Mau bilang mengemis, pasti dia tidak akan percaya. Mau bilang baru ketemu Power Ranggers, juga dia tidak akan percaya. Ya sudah aku bilang padanya, kalau aku mempunyai ilmu menghilang, eh dia malah percaya. Dia adalah satu-satunya orang yang mempercayaiku bisa tidak kelihatan. Mungkin baginya aku adalah kawan kepercayaan, sehingga apapun yang aku katakan dia percaya. Dia senang ketika menemukanku, dan mendapatiku ada dibelakangnya. Matanya berbinar-binar ketika melhat keberadaanku, seperti menemukan apa yang dicarinya selama ini, karena memang sudah janji untuk bertemu.
Akhirnya kami berjalan berdampingan, dia disisiku, aku disisinya, berjalan menuju kafetaria kampus yang penuh orang. Saat kami masuk pintu kafetaria, semua orang menatap kami. Ah, mungkin itu cuma perasaanku, tapi dengan segera aku memeriksa resleting celanaku, takut terbuka dan menarik perhatian orang. Tapi masa yang melihat ke arah kami cuma laki-laki? Masa iya sih, laki-laki ingin melihat resletingku yang terbuka. Mereka juga kan punya, tinggal cek saja sendiri. Ternyata aku GR, mereka bukan melihat ke arahku, tapi ke arah Noorshi. Mungkin bagi mereka Noorshi cantik, tapi bagiku Noorshi belum jelas, apakah cantik atau tampan. Seperti yang tadi aku bilang, belum aku pastikan kebenarannya, apakah Noorshi pria atahu wanita.
Kami berjalan menuju lantai dua. Saat dekat tangga ada si Ibu yang berjualan makanan. Namanya aku tidak tahu, lupa belum kenalan. Si Ibu itu menawari kami makan. Alangkah baik dan perhatian sekali si Ibu, sudah rela menawari kami makan. Katanya ada jengkol. Kemudian aku katakan pada si Ibu, “Ibu, ini kawanku suka jengkol” sambil menunjuk ke arah Noorshi. Tiba-tiba orang-orang yang sedang duduk dan jajan di depan kami malah tertawa. Kenapa mereka tertawa, padahal aku hanya menunjuk Noorshi untuk diberi jengkol oleh si ibu itu. Aku hiraukan mereka, karena aku tidak mau tertawa tapi mau jajan di lantai atas.
Saat melewati mereka yang tertawa, kalian tahu apa yang terjadi? Tidak tahu kan? Harus tidak tahu, supaya aku ceritakan. Mereka yang tertawa memanggil-manggil nama Noorshi, seperti yang menggoda. Kalian tahu apa yang dilakukan Noorshi saat dipanggil mereka? tidak tahu kan? Harus tidak tahu, supaya aku ceritakan. Noorshi memperlambat jalannya dan melihat ke arah mereka. Kemudian Noorshi diam melihat mereka. Kalian tahu apa yang aku rasakan? Tidak tahu kan? Harus tidak tahu, supaya aku ceritakan apa yang aku rasakan. Aku tidak suka ketika wanita yang bersamaku dipanggil orang yang tidak dikenalnya malah diam menatap, seolah-olah senang dipanggil-panggil.
Aku tidak mau Noorshi seperti wanita panggilan, yang dipanggil-panggil lantas datang menunggu tindakan selanjutnya. Kalian tahu apa yang Noorshi tanyakan padaku? Tidak tahu kan? Iya akan aku ceritakan, Noorshi malah bertanya, “siapa, kenal gak?” Mungkin Noorshi lupa, kalau yang dipanggil kan dia, bukan aku. Kenapa masih tanya aku kenal atau tidak? Untuk menentramkan hatinya, aku jawab saja kalau mereka temanku. Benar saja, ternyata salah satu dari mereka adalah temanku. Aku baru tahu setelahnya, ketika keluar dari kantin. Pada waktu mereka memanggil Noorshi, aku tidak tahu, karena tidak memperhatikan. Kalian tahu bagaimana mereka tahu nama Noorshi? Tidak tahu kan? Aku juga tidak tahu. Mungkin Noorshi terkenal.
Setelah itu, kami langsung menuju tempat makan. Membeli apa saja yang dapat mengisi perut. Aku memesan Nasi dan ayam goreng serta segelas es kelapa, sedangkan Noorshi hanya memesan es kelapa saja. Katanya mau bakso, tapi nanti makannya setelah aku beres makan. Biar apa ya? Biar bergantian saling menjaga. Ketika aku makan, dia yang jaga. Setelah itu dia yang makan, nanti aku yang jaga. Sangat aman sekali makan dengannya, sampai harus begitu caranya.
Setelah selesai aku makan. Maksudnya bukan noorshi yang aku makan, tapi Nasi dan Ayam. Kami turun ke lantai bawah kafetaria. Ini demi menyenangkan perut Noorshi yang ingin makan bakso. Sekarang giliran aku yang jaga, dia yang makan. Aku memperhatikan sekitar, takut ada yang tiba-tiba menyerang kami. Aku mau pinjam pisau sama tukang bakso, tapi tidak jadi, takut Noorshi nanti malu. Dengan tangan kosong aku bisa menjaganya ketika makan.
Tidak harus aku ceritakan ada berapa jumlah bakso yang Noorshi makan, karena tidak penting. Berapapun jumlah bakso yang dia masukan ke perut, tetap saja keluarnya cuma satu warna dan rupa yang sama, baunya juga sama. Sambil makan baso, Noorshi menceritakan kebimbangan hidupnya. Tenang, Noorshi, meskipun bimbang, bakso itu tetap bisa kau makan dan nikmati.
Akhirnya bakso itu bisa Noorshi makan dengan aman dan selamat. Aku berhasil menjaganya. Kemudian kami keluar dari kafetaria untuk menuju tempat yang nyaman di luar. Supaya aku bisa melaksanakan tujuanku untuk mewawancarainya. Tadinya mau di kafetaria, ternyata ramai sekali dan sulit sekali jika harus mendengar suaranya yang pelan diantara kegaduhan suara orang yang makan.
Kalian tahu apa yang aneh? Aku ceritakan, Noorshi lupa bayar bakso. Tapi tidak aku ingatkan, supaya dia nanti ingat sendiri dan balik lagi menuju tukang bakso yang sama untuk membayar. Biar terasa perjuangannya makan bakso. Atau jangan-jangan dia pura-pura lupa, dikirinya aku yang membayar. Tadinya mau aku bayar, tapi nanti dia takut tersinggung, nanti dikirinya dia wanita bayaran. Makanya aku juga jadi lupa membayarkan dia bakso.
Kami menuju sebuah tempat yang berada di depan gedung perkuliahan. Sengaja harus disana tempatnya, biar terasa mahasiswa dan mahasiswi semester awal, itung-itung nostalgia. Sebentar lagi juga kami akan diwisuda, makanya di depan kelas mempunyai nuansa dan kenangan tersendiri bagi kami yang harus lulus. Aku pun segera mewawancarainya, bertanya tentang ini dan itu. Aku suruh Noorshi menceritakan semuanya, menceritakan apa saja yang terkait dengan pertanyaanku, pengalamannya dan apapun yang aku butuhkan.
Tidak terasa ternyata sudah hampir dua jam kami duduk disana. Bagiku, Noorshi sakti, bisa membuat lupa waktu, membuat sore itu menjadi indah dan membuat mulutnya menjadi kering karena kebanyakan berbicara. Dengan segera aku mengajaknya pulang untuk aku antarkan kembali ke kosannya. Aku merasa bertanggug jawab sudah mengeluarkannya dari kosan, maka aku harus mengebalikaannya kembali dengan aman.
Kalian tahu apa yang aku katakan kepada Noorshi ketika hendak berpisah dengannya di depan gerbang kosan? Jangan tahu dulu, karena akan aku ceritakan. Aku mengatakan kepada Noorshi, “Noorshi, kamu harus jadi pemberani. Karena itu adalah satu-satunya cara untuk tidak takut”. Kalian tahu mengapa aku mengatakan kepada Noorshi? Jangan tahu dulu, biar aku ceritakan. Aku mengatakan itu kepada Noorshi, untuk menjawab semua kebimbangan yang diceritakaannya saat bersamaku tadi. Kamu tahu apa yang Noorshi lakukan setelah aku mengatakan itu? Harus aku ceritakan, bahwa Noorshi kemudian hilang masuk ke dalam tempatnya diam selama ini. Aku pun pergi dari sana meninggalkannya yang hilang ditelan pintu kosan. Noorshi, hati-hati di kosan. Jangan lupa nanti kalau wisuda pakai toga.
BBM terakhir Noorshi, “Upe, tahu ga? Aku lupa bayar baso dan balik lagi kesana”
Bandung, 09 September 2014
Kamar Kosan Bukbis




Comments