Tragedi Mekdi
- Sep 2, 2022
- 18 min read
Waktu itu adalah sekitar tahun 2005. Alun-Alun Bandung masih belum memakai karpet sintetis dan Jl. Asia Afrika belum semarak seperti sekarang. Kadang sekarang suka kaget kalau melewati Jl. Asia Afrika, banyak hantunya. Mereka suka diam di pinggir jalan, sambil memandangi para pejalan kaki yang lewat.

Meskipun banyak hantu, aku malah jadi bangga, karena warga Bandung jadi tidak takut. Malahan mereka mengajak hantu itu berfoto. Mungkin warga Bandung merasa senang, kalau dulu para hantu itu tidak kelihatan, sekarang jadi kelihatan. Bahkan saking senangnya, setelah berfoto mereka memberi uang kepada hantunya. Caranya dengan menyimpannya di kotak yang sudah disediakan oleh si hantu. Sungguh aneh, ternyata hantu juga butuh uang.
Pernah suatu waktu aku juga ingin berfoto dengan para hantu tersebut, tapi aku tidak akan memberi uang setelahnya. Aku mau ngasih daun aja. Soalnya kata temanku kalau hantu ngasih uang, suka jadi daun. Mudah-mudahan kalau aku ngasih daun, nantinya bisa jadi uang. Tapi tidak jadi aku lakukan, karena takut hantunya marah, nanti dianggapnya balas dendam.
Itu masih sekitar tahun 2005, ketika aku masih sekolah di Pesantren Persatuan Islam No. 1 Bandung. Orang lebih mengenalnya dengan Pesantren Pajagalan. Waktu itu aku masih kelas 3 Muallimien, masih remaja, dan masih mempesona. Pada malam hari di tahun 2005, yang aku lupa tanggal dan bulannya, aku masih berada di Pesantren Pajagalan bersama dua orang kawanku, Rifki dan Haqi. Kami berencana untuk menginap di sekolah. Entah apa tujuan kami sampai harus menginap di sana. Mungkin karena tidak punya banyak uang untuk ongkos pulang, atau karena ingin saja. Aku tidak tahu, yang jelas waktu itu tidak ada alasan pasti kenapa kami harus menginap.
Sekedar informasi saja, dulu pada tahun 2005, Pesantren Pajagalan tidak memiliki asrama putra, jadi para santrinya harus pulang-pergi ke Pesantren. Paling ada tempat untuk menginap putra di Qoyim Masjid Pajagalan. Sedangkan untuk santri putri, sudah tersedia asrama yang berada di luar sekolah, di Jl. Kalipah Apo, kami menyebutnya dengan asrama putri.
Sebelum aku melanjutkan ceritanya, akan aku perkenalkan terlebih dahulu kedua kawanku ini. Rifki, nama lengkapnya Rifki Ibrahim, suka kami panggil Chemod. Maklumlah remaja, nama yang bagus pemberian orang tua suka diganti dengan seenaknya. Entah kenapa Rifki harus dipanggil Chemod, yang jelas kami sudah memanggilnya begitu. Rumah Rifki berada di Bandung Timur, tapi lebih tepatnya di Kabupaten Bandung, yaitu di daerah Cinunuk. Ayahnya mempunyai kontrakan, Rifki sering menyebutnya dengan CNN Apartemen. Mungkin biar keren, Cinunuk disingkat jadi CNN seperti media Asing yang sekarang sudah masuk Indonesia. Agar identitas kontrakannya tetap terlihat, maka ditambah setelah CNN dengan kata Apartement. Hanya saja apartement milik Ayah Rifki tidak tinggi menjulang ke atas bertingkat-tingkat, tapi berjejer ke samping. Sekali lagi sebagai ungkapan keren dan rasa syukur kontrakannya diberi sebutan Apartement.
Aku bisa kenal dan dekat dengan Rifki karena arah pulang kami sama. Rumahku yang di daerah Panyileukan akan dilewati oleh Rifki yang memiliki apartement di Cinunuk. Kami berdua sering memakai kendaraan yang sama, yaitu Bus Jurusan Kebon Kalapa-Tanjung Sari. Agar menghindari Fitnah dan takut disangka yang tidak-tidak, ketika kami pulang bareng dengan kendaraan yang sama, kami suka duduk di tempat duduk yang terpisah. Biasanya kan kalau sama teman satu jok, tapi kami tidak. Biarlah jok dipinggir kami kosong. Aku lebih memilih duduk didepannya tempat Rifki duduk. Kami senang duduk di Jok terpisah, karena berharap nanti yang duduk di sisi kami adalah seorang wanita muda yang masih SMA atau kuliah. Meskipun kenyataannya lebih sering Nenek-nenek atau Ibu-ibu yang duduk disebalah kami. Tetapi kami tetap begitu, berbeda jok untuk duduk. Aku tidak akan mengenalkan Rifki lebih jauh sekarang, mungkin nanti seiring berjalannya cerita.
Kawanku berikutnya, adalah Haqi. Nama lengkapnya Natsir Haqi. Kami sering memanggilnya dengan sebutan Ackew, karena dia memiliki mata yang sipit. Rumah Haqi berada jauh disana, yang dia senang menyebutnya dengan Julukan kotanya, yaitu “Gerbang Marhamah”. Julukan untuk Kota Cianjur. Tentu akan sangat melelahkan jika Haqi harus bulak-balik Cianjur-Bandung untuk sekolah. Maka untuk mengatsi jarak, dia menginap di Rumah Kakaknya yang berada di Bandung Barat, tepatnya di Gunung Batu. Lagi-lagi dia sering menyebutnya dengan“Mountaint Stone”. Tetapi percayalah meskipun Haqi tinggal di rumah kakaknya, dia tidak menginap disana. Dia sering berpindah-pindah tempat menginap selama sekolah. Terkadang di rumahku, di rumah Rifki, atau juga di Rumah Asep.
Ya, mungkin dia lah satu-satunya teman kami yang Nomaden. Sampai-sampai tasnya jika ke Pesantren isinya bukan Buku tapi baju dan seperangkat alat mandi. Meskipun dia tidak suka membawa buku, tetapi dia termasuk orang yang pintar. Sampai-sampai waktu kelas tiga Tsanawiyyah dia termasuk salah satu santri teladan dengan hasil raport yang tinggi dibandingkan seluruh santri seangkatan kami. Namun Alhamdulilah, semenjak bergaul bersama kami, Haqi pun sudah tidak teladan lagi. Raportnya pun kembali normal, bahkan terkadang ada merahnya. Betapa baiknya Haqi, memiliki solidaritas yang tinggi. Supaya tidak menyinggung teman-temannya dan senasib, maka dia rela menurunkan nilainya. Terimakasih Haqi, sudah memilih mengalah untuk menurunkan nilai, daripada mengajak kami untuk menambah nilai.
Karena sifat Nomaden Haqi itulah aku, Rifki, dan teman-teman yang lainnya menjadi dekat. Kami selalu merasa kasihan kepada Haqi ketika pulang sekolah. Dia selalu termenung bingung, sebab tidak tahu harus pulang kemana. Dari sanalah kami sering menawarkan untuk menginap dirumah kami dengan berbagai fasilitas seadanya. Selain gelar Nomaden kami juga memberikan gelar “si Dhoif” kepada Haqi. Dhoif itu artinya lemah, maksudnya bukan karena Nomaden dia jadi lemah, tetapi karena ketika kami nongkrong, dia sering mengungkapkan yang katanya itu hadits padahal mah bukan. Nah hadits palsu atau yang lemah dan tidak bisa dipakai hujah itu disebut hadits dhoif, maka kami beri gelar dia “si dhoif”. Tetapi berkat Haqi lah kami tahu, yang mana Sabda Rasulullah SAW dan yang mana perkataan buatannya sendiri. Terimakasih Haqi sudah mengajarkan kami Ilmu Hadits. Haqi Juga adalah teman kami satu-satunya yang hafal nomor telepon rumah kawan-kawan seangkatan dan asrama putri. Karena dia belum memiliki hanphone untuk menyimpan nomor kontak, sehingga menggunakan ingatan untuk menghafal nomor telephon menjadi cara yang terbaik. Bagi Haqi menghafal nomor kontak kami adalah sesuatu yang penting, karena memudahkan dia untuk bertahan hidup.
Mari kita lanjutkan ceritanya, sesi perkenalan kita cukupkan sekian karena kelelahan dalam mengetik. Terlalu banyak yang bisa aku ceritakan dari mereka berdua. Itulah kami bertiga yang masih ada di Pesantren Pajagalan pada malam hari dalam keadaan perut kosong. Aku dan Rifki sudah diajari oleh Haqi bertahan hidup dalam suasana seperti ini. Karena pengalaman Haqi ketika Nomaden sungguh sangat banyak.
“Jir, Masjidnya di tutupan” Kataku yang melihat salah seorang santri menutup pintu masjid dan mematikan lampunya setelah waktu Isya.
Santri itu adik kelas kami. Kami mengenalnya dengan nama Otong. Tidak tahu siapa nama aslinya.
“Tong, dikonci masjidna?” Tanya Haqi dengan raut muka yang kaget.
“Enggak Kew, enggak di kunci, cuma ditutup doang” Jawab Otong.
“Oh kirain teh dikunci. Kalau nanti tidur disana bisa gak?” Tanya Haqi kembali, insting Nomadennya mulai muncul.
“Kalem, bisa, Kew. Emang kalian mau pada tidur di Masjid?” Jawab Otong sambil bertanya kembali yang melihat kami bertiga masih duduk di tangga pintu masuk Masjid.
“Iya, Tong” Jawabku. Mewakili Haqi dan Rifki yang hanya mengangguk.
“Kalem , aman, saya dan anak-anak yang lain juga mau tidur di Masjid da” Jawab Otong yang membuat hati kami lega karena ada teman tidur bareng.
Kami masih duduk bertiga setelah Otong pergi meninggalkan kami. Maksudnya bukan Otong meninggal, tetapi Otong pergi masuk ke ruangan yang lain.
“Lapar gak?” Tanyaku kepada Rifki dan Haqi.
Dengan sigap mereka menangguk berbarengan tanda setuju bahwa mereka juga lapar.
“Hayu ah, mau makan apa?” Tanya Rifki
“Si Emang Nasi goreng depan Pesantren buka gak?” Tanya Haqi.
“Tutup, Kew” Jawab Rifki.
“Euh, padahal murah dan banyak Nasgornya” Kata Akew lagi.
“Emang ada uangnya, Kew?” Tanyaku kepada Haqi. Karena yang aku tahu kondisi keungan aku dan Rifki sedang krisis moneter.
“Si Akew baru pulang dari Cianjur, Pe. Pasti uangnya berlimpah kembali. Ha ha ha” Kata Rifki sambil tertawa.
Kami pun ikut tertawa, biar terlihat solider.
“Hayu ah urang cari weh ke depan” Kata Haqi sambil berdiri memberi aba-aba untuk pergi.
Kami pun ikut berdiri mengikuti instruksinya. Karena aku dan Rifki sepakat, ketika Haqi mengajak makan, maka kami akan ditraktirnya.
“Eh, Kew, Mod, Urang teh boga voucher Mekdi (McDonald), tiga voucher” Kataku yang tiba-tiba teringat membawa voucher dari Abahku sebagai hadiah lebaran kemarin.
“Voucher apaan, Pe?” Tanya Rifki memastikan.
“Gak tahu, voucher makan mereun. Da, gak akan mungkin voucher pulsa mereun ya?” Jawabku sambil mengeluarkan voucher dalam tasku.
“Coba liat” Kata Rifki lagi.
Aku menyerahkan voucher itu kepada Rifki untuk diteliti lebih seksama lagi.
“Tulisannya sepuluh ribu euy per vocher” Tambah Rifki.
Sebenanrnya aku juga sudah tahu tulisan beserta jumlahnya. Mungkin Rifki ingin menegaskan kembali dengan mengulanginya lagi.
“Ada berapa, Pe, vocherna?” Tanya Akew sambil ikut melihat voucher yan sedang dipegang Rifki.
Sebenanrnya tadi aku sudah mengatakannya, bahwa voucher tersebut ada tiga. Mungkin Akew ingin memastikan kembali jumlahnya.
“Tiga, Kew” Jawabku sambil mengeluarkan seluruh voucher yang aku miliki.
“Geus, ini mah voucher makan. Ada tiga, berarti tiga puluh rebuen. Jadi kita bisa jajan di Mekdi tiga puluh rebuen”. Kata Akew dengan gaya meyakinkan.
Akew itu mempunyai skill sok tahu, yang terkadang mengecoh kami dengan skillnya tersebut. Namun untuk kondisi kami yang lapar itu sangat diperlukan, sehingga kami bisa yakin makan malam di Mekdi hari ini tanpa keraguan sedikitpun.
“Hayu, ah” Tambah Akew sambil mengajak kami bergegas pergi.
“Mekdi mana, Kew?” Tanya Rifki sambil menyerahkan kembali semua vouchernya padaku.
“Nu di King weh” Kataku mengusulkan.
“Emang bisa, Pe? Gak harus Mekdi tertentu ini teh?” Tanya Rifki cukup berhati-hati sebelum makan.
“Bisa kayaknyamah, kita cobain dulu weh” Jawabku.
“Udah bisa di Mekdi mana-mana juga itu mah. Yang penting Mekdi, soalna di voucherna gak ada tulisan Mekdi mana, berarti bisa” Kata Akew meyakinkan kami kembali. Kami berdua harus yakin, karena lapar semakin terasa.
“Hayu, ah” Kata Akew lagi mengajk kami segera berjalan.
Kami bertiga yang sudah yakin dan lapar pergi meninggalkan sekolah, berjalan menelusuri Jl. Kalipah Apo untuk menuju Jl. Otista. Oh malam ini sungguh campur aduk rasanya, antara rasa lapar dan rasa rasa masih belum percaya bahwa voucher ini bisa ditukar. Tetapi dengan keyakinan Akew, kami pun jadi harus percaya.
Terkadang aku sering berfikir, keimanan Akew itu sungguh kuat, dan dia orang yang tawakal. Dia tidak terlihat khawatir, meskipun dia belum tahu harus tidur dan makan dimana ketika tidak memiliki uang. Mungkin keadaannya menerpa dia untuk memiliki keyakinan semacam itu, keyakinan akan bisa tidur dan makan dimanapun. Bahkan bulan Ramadhan pun kadang Akew masih memiliki keyakinan kalau dia bisa tetap makan, walaupun itu siang hari.
Sepanjang perjalanan kami mengobrol, membicarakan hal-hal yang tidak kami mengerti. Salah satunya adalah kenapa kami harus begini, tidak pulang ke rumah saja dan bisa makan sepuasnya. Tapi bagiku ini seperti sebuah pertualangan, melatih diri kami keluar dari rasa nyaman, menemukan tantangan, dan kelak suatu saat bisa kami ceritakan.
Tidak terasa, akhirnya kami sampai di depan Mekdi yang berada di bawah jembatan Kings Mall. Orang-orang masih banyak yang berlalulalang. Ada yang nongkrong, ada yang belanja, dan termasuk ada kami yang ragu untuk masuk.
Sekarang kami ragu, bukan karena khawatir masalah voucher. Tetapi lebih karena kami jarang makan di tempat semacam ini. Ada rasa malu dan segan untuk masuk.
Kalau dipikir-pikir kenapa kami harus malu. Mungkin karena image dari Mekdi sebagai tempat makan orang-orang gaul atau yang punya uang. Padahal kata Abahku, Mekdi itu di tempat asalnya seperti warteg di tempat kita. Cuma di sini saja orang-orang kadang merasa bangga. Ya, maklumlah kami masih remaja. Sangat mudah melahap makna baru yang dibuat. Kami gampang dipenjara oleh image-image yang akhirnya mebuat kami terpengaruh. Kami menjadi konsumen makna yang patuh dari realitas yang digambarkan oleh iklan-iklan dan poster-poster.
“Kamu dulu, Mod, yang masuk” Kataku menyuruh Rifki saat berada di depan pintu Mekdi.
“Embung, ah. Maneh heula weh, Pe” Kata Rifki menyuruhku lagi sambil mengubah tempatnya dibelakangku.
“Kenapa, Mod, gak mau duluan?” Kataku bertanya kembali.
“Malu, euy. Ha Ha Ha” Kata Rifki sambil tertawa.
“Sarua, Mod. Ha Ha Ha” Kataku sambil ikut tertawa juga.
“Kenapa ya?” Tambahku lagi, mempetanyakan kenapa aku dan Rifki harus malu masuk ke tempat tersebut.
“Teuing atuh, Pe” Jawab Rifki.
“Kew, Kew, dewasa Kew” Kataku menyuruh Akew untuk masuk duluan.
“Naha sih, Santai weh” Kata Akew melihat kelakuan kami yang tidak mau masuk duluan dan membuka pintu.
Lagi-lagi Akew menjadi satu-satunya orang yang yakin diantara kami. Karena mungkin Akew tahu, kalau dirinya ikut ragu dan malu, kami akan lapar dan tidak jadi makan di sana.
Akew pun membuka pintu dan masuk. Kami berdua mengikutinya dari belakang.
“Kemana ini?” Tanya Akew sambil menoleh kepada kami berdua.
Kalau tidak salah, tempat untuk memesan makanan Mekdi di Kings berada di lantai bawah. Jadi setelah kami masuk kami kebingungan harus kemana.
“Ke Bawah, Kew” Kataku sambil menunjuk tangga.
Kami bertiga pun langsung menuju bawah, menuruni tangga tersebut dengan rasa yang masih campur aduk.
“Di sana ya, Pe?” Tanya Akew sambil menunjuk tempat pemesanan makanan.
“Iya, Kew” Jawabku. Aku tidak tahu kenapa Akew harus bertanya lagi jika sudah tahu. Mungkin ingin memastikan.
Kami bertiga meunju tempat memesan makanan.
“Kew, ini. Sambil tanyain, bisa pake voucher ini nggak gitu” Kataku saat berjalan menuju tempat tersebut dan menyerahkan ketiga voucher kepada Akew.
Akew mengambilnya, sambil tetap berjalan. Aku dan Rifki masih setia berada di belakangnya, mendukung keberaniannya untuk tetap yakin menghadapi kondisi kami yang sedang malu dan merasa minder.
“Selamat malam, mau pesan apa?” Tanya pelayan Mekdi menyambut kami dengan wajah yang menyenangkan, saat kami sampai di hadapannya.
Kebetulan tidak mengantri, dan itu menyenangkan. Sehingga tidak harus membuat diri kami menahan rasa lapar dan tegang begitu lama.
“Malam. Maaf, Mas, kalau Voucher ini bisa di sini?” Tanya Akew sambil menyerahkan ketiga vouchernya.
Kemudian pelayan tersebut mengambil dan melihat voucher tersebut. Duh tegang nih, takut tidak bisa. Padahal kami sudah lapar.
“ Oh iya, bisa. Paling pembeliannya sesuai jumlah yang tertera di voucher” Jawab pelayan Mekdi setelah beberapa saat mengamati.
“Jadi kita cuma bisa beli untuk harga tiga puluh ribu ya, mas?” Tanya Akew lagi.
“Iya. Kalau untuk yang pake voucher” Jawab pelayan.
“Oh begitu” Kata Akew sambil melirik ke arah kami yang berdiri di belakangnya.
“ Kalau mau lebih dari harga itu, nanti kekurangannya bisa bayar lagi” Kata pelayan Mekdi yang mungkin sudah membaca kebingungan dan kelaparan yang kami alami.
“Oh, jadi bisa pake cash, Mas, kekurangannya” Tanya Akew lagi, terlihat jadi antusias.
“Iya, bisa. Misalkan, pesan makan buat tiga orang Paket yang itu, totalnya pembayarannya enam puluh ribu. Nah, yang tiga puluh ribu pake voucher, sisanya tiga puluh ribu lagi bisa pake cash” Kata Pelayan Mekdi menjelaskan kepada kami.
Mendengar itu Akew terlihat sangat senang. Aku dan Rifki juga jadi senang, tapi kami tidak punya uang lagi untuk membayar sisanya.
“Mau pesan yang mana, Pe, Mod?” Tanya Akew setelah mendengar penjelasan tadi.
Aku dan Rifki yang sedang senang tidak langsung menjawab. Karena kami harus bingung dulu, dengan berpura-pura melihat menu yang ada di papan menu atas.
“Sisana mah dari saya weh” Kata Akew lagi. Tentu saja Akew sudah tahu keadaan perekonomian kami saat itu.
“Weis, baru dapat kiriman nih” Kata Rifki mengekspresikan kesenangan setelah mendengar kata-kata Akew.
Aku juga jadi senang dan tidak bingung lagi.
Akhirnya kami memesan menu makanan yang kami maui dan sukai. Tentu saja harus ada Nasi, karena psikologis kami ketika makan bisa terganggu jika nasi tidak menyertainya. Mungkin kentang bagi orang sana, sudah cukup, tapi kentang bagi kami serasa cemilan.
Kami duduk di tempat yang masih bisa terlihat oleh pelayan, sehingga ketika dipanggil. Kami bisa dengan cepat mengambilnya. Maklumlah sudah lapar, ketakutan dan kesabaran kami sedang diuji.
Aku duduk di samping Rifki, sedangkan Akew duduk di depan kami berdua. Bangku yang satunya dibiarkan kosong, karena kami Cuma bertiga.
“Duh tegang, nih” Kataku membuka percakapan saat duduk.
“Tegang kunaon, Pe” Tanya Rifki sambil menyimpan tas di samping kursi.
“Tidak biasa makan di tempat seperti ini, Mod. Gak ngerti, takut salah bersikap. Ha Ha Ha” Jawabku.
“Sarua, Pe. Urang ge teu biasa. Ha Ha Ha” Kata Rifki menemaniku yang sedang tegang.
“Emangna, urang biasa. Sarua weh. Ha Ha Ha” Kata Akew ikut tegang dan kompak bersama kami berdua.
Kami bertiga seolah-olah menjadi orang yang tidak tahu apa-apa di tempat itu. Namun, disatu sisi kami juga malu jika orang yang makan di sekitar kami mengetahui kami tidak tahu apa-apa. Maklumlah rasa gengsi pada saat itu menguasai kami. Padahal sebenarnya tidak harus malu, karena ini hanyalah masalah kebiasaan saja. Jika tidak biasa melakukan, ya wajarlah kalau belum tahu dibandingkan dengan yang bisa melakukan. Ya tapi itulah keadaan kami pada masa itu di tempat tersebut.
“Terus udah gini gimana?” Tanya Akew yang tidak tahu harus apa lagi.
“Tunggu, nanti dipanggil buat ngambil makanannya”. Jawabku.
Sambil menunggu kami mengobrol dan melihat-lihat ke arah sekitar. Bukan karena ingin tahu keadaan tempat makannya, tapi lebing ingin melihat orang lain. Sehingga kami bisa mempelajari bagaimana cara mengambilnya, dimana tempat cuci tangannya, atau banyak hal yang belum kami ketahui.
Anak-anak di belakang meja kami terlihat santai dan senang ketika makan di sana. Kenapa kami tidak bisa sesantai mereka. Sialan, remaja memang dituntut untuk tidak kekanak-kanakan dan bisa bersikap dewasa. Padahal kami baru saja meninggalkan masa kanak-kanak kami. Bagiku, masa remaja adalah transisi dan pengkondisian menjadi dewasa. Jadi wajarlah kalau sering bergejolak.
“Itu” Kata Akew memberi isyarat, karena melihat pelayan memanggil kami.
Kami tidak mendengarnya, karena suasana Mekdi cukup ramai dan jarak kami duduk yang tidak terlalu dekat.
Kami bertigapun berdiri, berjalan menuju tempat pelayan memanggil. Kemudian kami mengambil makanan pesanan kami masing-masing dan berjalan kembali ke tempat kami duduk.
Senangnya kami, akhirnya bisa makan juga di tempat yang menegangkan ini. Kami memeriksa pesanan kami masing-masing, mengaturnya supaya bisa dimakan dengan mudah dan nikmat.
“Sedotannya dimana ya?” Tanya Rifki ketika mengetahui kalau minumannya tidak ada sedotan.
Pada waktu itu, di Mekdi minumannya di dalam cup dan tertutup. Di tutup minumannya ada tempat untuk melubangi dengan sedotan. Tentu saja, kami yang tidak terbiasa makan di tempat tersebut, bertanya-tanya mengenai keberadaan sedotan minuman.
“Eh iya, ya” Kataku mengamini pertanyaan Rifki.
Kemudian aku melihat ke sekitar, melihat orang-orang yang sedang makan, apakah mereka memakai sedotan untuk minumannya. Jangan-jangan memang tidak disediakan sedotan.
“Itu ada, orang lain mah sedotannya” Kataku kepada Rifki.
“Eh, iya”
Akew melirik ke segala arah, sepertinya sedang mencari sedotan.
“Tunggu, tunggu” Kataku kepada mereka berdua.
“Apa, Pe?” Tanya Akew.
Aku hanya menunjuk ke arah seseorang yang baru saja mengambil pesanan.
“Emang kunaon?” Tanya akew bingung.
“Perhatikan weh” Jawabku singkat.
Orang tersebut tidak langsung duduk. Dia berhenti di meja yang berada ditengah-tengah mekdi, dekat keran. Kemudian dia mengambil sesuatu di dalam kotak. Ternyata di dalam kotak itu dia mengambil sedotan.
“Tuh Kan!” Jawabku dengan raut wajah senang.
“Sedotannya di sana” Timpal Akew.
“Edan si Upe euy, make gaya ditektip. Ha Ha Ha” Kata Rifki sambil tertawa.
“Disaat terdesak, kita teh harus mengaktifkan seluruh indra kita dengan baik. Ha Ha Ha” Kataku ikut tertawa juga.
Aku segera berdiri, menuju meja ditengah-tengah tersebut. Aku kemudian melihat kotak itu. Didalamnya terlihat banyak sedotan yang masih terbungkus plastik. Aku bisa meihatnya arena kotak itu transparan.
Namun, masalah selanjutnya muncul. Bagaimana cara mengambilnya? Hanya terdapat lubang kecil memanjang di atasnya dan guratan bulat saja. Aduh bagaimana ini? Masa harus nanya sama orang lain. Malu.
Aku coba tekan-tekan guratan bulat tersebut. Ternyata tidak keluar sedotannya. Aku tahu itu hanya hiasan, seperti bentuk polet yang menghias kotak tersebut. Tapi tetap saja aku coba tekan karena tidak tahu harus apa lagi. Duh, ini harus bagaimana? Aku malu kalau terlalu berdiri terlalu lama di sini. Bagaimana kalau tiba-tiba semua orang yang sedang makan, tiba-tiba melihat ke arahku. Kemduian mereka berteriak ke arahku, “Huuuh! dasar katro!”.
Aku tahu ini hanya ketakutanku saja. Itu terlalu berlebihan, tap itulah yang aku pikirkan saat itu. Salahnya tadi aku hanya memperhatikan orang itu membawa sedotan, tapi tidak memperhatikan bagaimana cara mengambilnya. Karena tidak terlihat, pandanganku terhalang oleh orang itu ketika mengambilnya.
Tiba-tiba aku teringat dengan tempat rokok yang dibuat oleh bapaknya si Iftah. Ketika aku menginap di rumahnya, dia menunjukan bahwa bapaknya punya tempat rokok yang unik. Tinggal diangkat kemudian ditekan kembali muncullah rokok dalam kotak tersebut.
Sepetinya cara kerja kotak ini juga sama. Maka dalam keadaan terdesak, tidak salah jika aku mencoba dengan cara yang sama pada kotak rokok tersebut. Ternyata benar saja, sedotan yang selama ini aku cari-cari dan tunggu-tunggu keluar juga. Oh, senang sekali rasanya. Mungkin bagi orang yang sudah tahu itu biasa, tapi bagiku yang baru mengetahuinya dan melakukannya secara otodidak, ini seperti sebuah penemuan yang hebat.
Setelah mendapatkan sedotan tersebut aku kembali ke tempat kami bertiga tadi duduk.
“Ini” Kataku kepada Rifki dan Akew dengan bangga.
Akew dan Rifki belum mengambilnya, dia menungguku untuk memastikan kebenaran bahwa sedotan berada di tempat itu.
“Bener, Pe, di tempat eta?” Tanya Rifki memastikan kembali.
“Bener, Mod” Jawabku sambil memasukan sedotan kedalam cup minumanku.
Kemudian Rifki berdiri untuk mengambil sedotan ke tempat tersebut. Aku sengaja tidak menjelaskan bagaimana cara mengambilnya. Aku anggap Rifki sudah mengetahuinya. Kalaupun belum tahu dan kebingungan, mudah-mudahan mereka merasakan pengalaman yang sama sepertiku. Biar berbagi pengalaman secara langsung dan nyata.
Akew tidak langsung ikut berdiri bersama Rifki mengambil sedotan. Dia sudah mulai memakan makanan yang ada dihadapannya. Aku pikir Akew tidak merasa terburu-buru untuk minum, jadi dia lebih memilih menghabiskan makanannya terlebih dahulu.
Tidak berapa lama Rifki datang dengan membawa sedotan. Raut wajahnya pun terlihat senang.
“Buru, Kew, ambil sedotannya” Kata Rifki saat pertamakali tiba.
Aku tahu Rifki ingin memotivasi Akew supaya memiliki pengalaman yang sama dengan kami berdua saat memecahkan masalah dalam mengambil sedotan.
“Ngke, kalem” Jawab Akew sambil tetap makan dan menatap ke arah kami berdua.
“Bisa, Mod?” Tanyaku sedikit berbisik kepada Rifki.
“Bisa” Sambil sedkit tertawa.
Aku pun jadi ikut tertawa.
“Kumaha carana?” Tanya Akew entah kepada aku atau Rifki.
Akew sepertinya curiga dengan gaya tertawa kami. Dia langsung bertanya dan tidak langsung mau berkesperimen dengan mengambil sedotan.
“Ha Ha Ha” Aku dan Rifki jadi tertawa. Bukan mentertawakan ketidak tahuan akew, tapi mentertawai ketidak tahuan kami saat mengambil sedotan.
“Urang bieu bingung mau ngambil sedotanna” Kataku menceritakan kepada Akew.
“Sarua, Pe” Timpal Rifki.
“Gimana cara ngambil sedotannya tadi teh. Ku urang coba dipencet-pencet polet anu buleud. Eh, teu kaluar oge”. Kataku melanjutkan cerita.
“Jir, sarua urang oge. He He He” Kata Rifki lagi sambil tertawa.
“Terus akhirna mah diangkat, jeung diteken. Kaluar weh si sedotanna. Ha Ha Ha” Lanjutku lagi sambil tertawa.
“Ha Ha Ha” Akew dan Rifki juga ikut tertawa
Setelah mendengarkan cerita kami, Akew berdiri, bergerak menuju tempat sedotan berada. Dia merasa yakin dan percaya diri karena sudah mempunyai bekal dari penemuan kami.
Ternyata Akew pintar, tidak berusaha untuk menjadi orang pertama diantara kami yang mengambil sedotan. Di tahu harus bertindak sabar dan tidak terburu-buru. Mengamati orang pertama untuk belajar, agar berhasil dan tidak perlu bingung.
Kami bertiga makan dengan rasa senang. Tidak dipusingkan dengan masalah sedotan tadi. Karena sedotannya sudah berada pada minuman kami masing-masing.
Agar lebih otentik dalam menikmati makanan, kami menggunakan tangan, bukan sendok atau sumpit. Karena memang tidak ada disediakan oleh Mekdi. Apalagi kami yang orang sunda sudah sangat terbiasa makan dengan tangan kosong, tanpa benda dan perlatan makan.
Sambil makan kami membicarakan banyak hal. Membicarakan kami yang sering kesiangan masuk sekolah, membicarakan teman-teman kami yang tidak ikut malam ini, membicarakan kisah cinta kami yang tragis, termasuk membicarakan rencana kami ke depan. Ya begitulah, masa remaja , banyak yang harus dibicarakan sebanyak yang harus dilakukannya.
Rifki berdiri, makanannya lebih dulu habis. Atas nama kebersihan Rifki harus mencuci tangannya. Karena memang begitu kami diajarkan sejak kecil. Aku masih makan, Akew juga. Rasanya sayang jika makan Mekdi terlalu cepat. Biarlah lidahku merasakannya secara perlahan. Meskipun jika sudah diperut rasanya sama, dan jika sudah keluar baunya sama. Lidah memberi tahu kami mana makanan yang enak dan kami tidak senangi, perut mengingatkan kami kapan harus makan dan berhenti, sedangkan ampasnya mengajarkan kami bahwa semua sama dan harus kami buang di kloset.
“Bentar” Kata Rifki memberi isyarat kepada kami untuk memberitahukan bahwa dia akan mencuci tangannya.
Aku dan Akew hanya menoleh. Karena itu memang tidak perlu di Jawab.
“Pe, besok nginep di Panyileukan, ah” Kata Akew yang berencana untuk menginap di rumahku.
“Hayu, kew” Jawabku singkat
“Ajakan si chemod oge, ameh rame” Tambah Akew.
“Enya, engke urang ajakan” Jawabku.
Aku tidak langsung bertanya kepada Rifki karena dia sedang mencuci tangannya. Sehingga ketika dia kembali, nanti akan aku sampaikan permintaan Akew tadi. Bar menjadi wakil Akew dalam mengajak.
“Radio masih ada di kamar?” Tanya Akew.
Akew selalu menanyakan keberadaan radio di kamarku ketika mau menginap, karena radio menjadi satu-satunya hiburan kami. Di rumahku juga ada TV, tapi itu ada di bawah, di ruang keluarga. Jadi pasti Akew akan malu kalau harus menonton bersama dengan keluargaku. Di dekat kamarku juga ada computer, tapi entah kenapa Akew tidak menyukainya. Mungkin baginya computer identik sebagai alat untuk mengetik.
“Ada, Kew, aman” Jawabku lagi sambil masih mengunyah makan.
“Radionya enggak....” Omongan Akew terhenti karena Rifki tiba-tiba datang sambil meringis.
“Duuuuh..ieu kumaha!” Kata Rifki dengan raut wajah seolah-olah dibuat menangis sambil menunjukan kedua telapak tangannya yang dipenuhi dengan saos.
Itu saos yang sangat banyak sekali, memenuhi kedua talapak tangannya yang dibuat menyatu. Bahkan saos tersebut hampir tumpah dari kedua telapak tangan Rifki.
“Ha Ha Ha Ha Ha” Aku dan Akew tertawa terbahak-bahak melihat keadaan Rifki yang sedang kesusahan tersebut.
“Ieu kumaha, ih??” Melihat kami yang tertawa, Rifki malah bertanya kembali.
“Ha Ha Ha Ha” Kami masih tetap tertawa.
Bukannya kami jahat. Tapi yang terjadi pada saat itu memang sangat lucu. Akhirnya, sepandai-pandianya kami menjaga sikap di Mekdi, untuk tetap kelihatan percaya diri dan menjaga gengsi, berakhir tragis dengan kejadian tersebut.
“Kumaha, iiih??” Tanya Rifki kembali, tetap meminta soslusi dari kami berdua yang sebenarnya tidak tahu juga harus apa.
“Itu kenapa bisa begitu, Mod” Tanyaku kepada Rifki.
“Tadi teh mau cuci tangan. Ke keran yang di sebelah sana. Pas dibuka kerannya ternyata keluarnya saos bukan air” Kata Rifki menjelaskan
“Ha Ha Ha” Aku dan Akew tertawa lagi.
“Nah, kaget kan. Karena takut si saosnya tumpah kemana-mana. Akhirnya ditadah pake kedua tangan, sambil mikir gimana cara matiinnya dan saos tidak tumpah” Lanjut Rifki menjelaskan.
“Ha Ha Ha” Aku dan Akew tertawa lagi.
“Terus” Kata Akew setelah tertawa meminta Rifki untuk melanjutkan ceritanya.
“Akhirnya pake sikut di tutupnya, ya meskipun saosnya ada yang tumpah sedikit” Lanjut Rifki sambil menirukan gaya dia mematikan keran dengan sikutnya.
“Itu tuh, cuci, Mod” Kataku sambil menunjuk arah wastafel tempat mencuci tangan.
“Terus, saosnya ini buang aja gitu?” Tanya Rifki.
“Iya, buang aja weh” Jawabku.
Orang-orang di sekitar yang sedang makan, memperhatikan kami, lebih tepatnya melihat ke Arah Rifki yang menampung saos dengan tangannya. Anehnya aku tidak malu saat itu. Mungkin Rifki yang malu. Bisa jadi rasa maluku sudah diwakili oleh Rifki yang mengalami kejadian tersebut.
Rifki dengan segera pergi menuju wastafel. Aku dan Akew kembali duduk sambil masih tertawa melihat kejadian tadi. Aku sudah tidak memperdulikan orang-orang yang melihat kami. Ternyata sedikit kesalahan yang dilakukan, bisa membuatku menghilangkan rasa canggung dan minder yang dari tadi sedang menghantui.
Semakin kita ingin terlihat sempurna tanpa berbuat kesalahan, justru menjadi beban. Tetapi dengan membiarkan diri kita menerima bahwa kesalahan itu bisa terjadi, menjadikan kita ringan. Apa yang harus kita lakukan tidak bergantung kepada pendapat orang lain.
Terimakasih Rifki, sudah mengajariku. Mungkin ini malu, tapi nanti juga hilang.
“Duh, Chemod, Chemod” Kata Akew sambil masih ada sisa tertawa.
“Sugan urang teh geus apal tempat cuci tanganna, Kew. Hanas teu dibejaan” Kataku.
“Enya, lain nanya. He He He” Timpal Akew.
Setelah beberapa saat Rifki kembali ke meja dengan raut wajah yang lebih tenang dan sedikit tertawa.
“Duh euy, kirain teh keran air” Kata Rifki sambil kembali duduk.
“Keran saos” Kataku menambahkan.
“Ha Ha Ha” Aku, Rifki, dan Akew tertawa, masih mengenang kejadian tadi.
“Saos teh pake keran atuh” Kata Rifki protes.
“Ha Ha Ha” Kami tertawa lagi.
“Biasa ge dibotolan nyak, Mod” Kata Akew mendukung protes Rifki.
“Heueuh” Kata Rifki sambil sedikit tertawa.
“Soalnya, tadi teh kan udah dikasih saos saset di paket makananna. Nah kirain Cuma itu saosnya.” Lanjut Rifki.
“Ha Ha Ha” Kami tertawa lagi.
Orang-orang masih ada yang melihat kami. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Aku tidak perduli, biarlah mereka memikirkan kami seperti keinginannya. Bagi kami, ini malam yang indah. Bisa tertawa bersama.
Akew dan aku segera menghabiskan makanannya. Itu harus kami berdua lakukan, supaya Rifki tidak menunggu lama dan bisa segera keluar dari Mekdi. Kami di Mekdi lebih senang untuk numpang makan dibandingkan numpang nongkrong.
“Hayu, ah” Kata Rifki mengajak kami untuk segera keluar.
“Hayu” Jawabku sambil berdiri dan mengambil tas.
Kami bertiga pun keluar dari Mekdi. Melewati orang-orang yang mungkin tadi melihat Rifki bersimbah saos di tangannya, melewati pelayan yang tadi melayani kami, dan melewati pintu depan tempat kami masuk.
Setelah keluar kami berjalan menuju sekolah. Berjalan menusuri jalan Kepatihan, meliha cahaya malam kota Bandung. Oh sungguh indah kota Bandung jika dilihat dalam kondisi perut kenyang. Maklumlah, kalau lapar fokus memikirkan perut, dibandingkan suasana kota.
“Langsung ke Masjid ini teh?” Tanya Akew saat sudah masuk Area sekolah.
“Iya hayu” Jawab Rifki.
Perut kenyang memang selalu memotivasi untuk tidur. Ya, jadi kami harus segera masuk Masjid Pajagalan, supaya segera bisa merebahkan badan yang sudah mulai lelah dan mengantuk.
Kami bertiga pun Masuk masjid. Ada otong, yang tadi berjanji untuk menunggu kami masuk. Ada juga yang lainnya, cukup banyak orang-orang yang tidur di masjid malam ini. Aku tidak tahu siapa saja, karena lampu masjid sudah dimatikan dan gelap.
Kami bertiga memilh tempat di pinggir, sehingga nati jika kami susah bangun, tidak menghalangi orang yang akan shalat subuh. Bukan berniat untuk susah bangun, tapi kami harus bersiap jika itu terjadi.
Saat memejamkan mata, aku senyum-senyum sendiri mengenang kejadian tadi. Aku tidak tahu Rifki dan Akew, mudah-mudahan sedang tersenyum juga. Terimakasih Akew, sudah mentraktir kami. Terimakasih Rifki, sudah membuatku tertawa. Terimakasih Mekdi, sudah menyediakan keran saos.
“Bismika Allahuma Ahya wa Amuut” Terimakasih ya Allah, sudah mengizinkan kami tidur malam ini di rumah-Mu dan membuat semunya terjadi.
Bandung 29 Agustus 2022
Belum di edit karena malas




Comments