top of page
Search

Abahku yang Mulia

  • Jul 29, 2022
  • 6 min read

Updated: Jul 30, 2022

Kau tahu abahku? Dia adalah ayahku yang aku memanggilnya abah, dan dia adalah salah satu penyebab ibuku harus mengandung selama sembilan bulan. Aku juga bagian dari dirinya, yang dulu berada di dalam tubuhnya, sewaktu masih berbentuk cairan, hasil dari pengolahan sari pati yang dimakannya. Aku tidak sendiri berada di dalam tubuh abah, ada banyak disana yang menunggu sepertiku. Tapi aku tidak kenal mereka, karena memang tidak harus kenalan.




Pada waktu yang tepat dan waktu yang ditunggu-tunggu oleh Abah, maka aku dipindahkan ke dalam tubuh ibuku. Tidak hanya aku, mereka yang tadi bersamaku ikut juga. Kami berlomba-lomba menuju tempat yang kokoh di dalam tubuh ibuku, nama tempat tersebut adalah rahim. Sejak dulu aku sudah dilatih menghadapi setiap tantangan, agar yang terkuat bisa menempati tubuh ibuku. Itu namanya bukan kesurupan, tapi kehamilan. Jika aku ingat akan aku ceritakan bagaimana perjalanan ke alam rahim sana. Tapi waktu itu aku masih berbentuk air yang hina, jadi tidak ingat. Yang jelas perjalanan ke rahim sana cukup panjang, melalui beberapa tantangan.Tantangan ke rahim memang harus banyak, biasa lah wanita selalu selektif. Sehingga melalui tantangan tersebut bisa diketahui siapa yang pantas mendapatkan tempat dirahim sana, untuk nantinya bisa bertemu dengan orang-orang yang terlibat menciptkanku.


Meskipun aku dari air yang hina, tapi orangtuaku akan sedih dan marah jika ada yang menghinaku. Karena mereka tahu orang yang menghina tersebut adalah dulu yang hina juga, semakin tampak kehinaannya ketika menghina.


Aku senang, ternyata aku lah yang berhasil melalui ujian dan tantangan itu, meskipun tidak diberi kunci jawaban tapi akhirnya aku yang berhasil. Abahku senang dan bangga, karena melihat salah satu air hina yang dulu berada di dalam tubuhnya, bisa sampai dengan selamat. Nah, di rahim sana itulah aku dititipkan oleh abahku, supaya aku yang dulu air hina bisa menjadi mulia.


Oh iya, ketika dulu sewaktu masih zamannya kakek moyangku, Nabi Adam A.S, semua air yang hina itu telah di tanya oleh Allah, "Apakah kalian menyaksikan bahwa Aku adalah Tuhan kalian?" Kemudian kami menjawab, "iya aku bersaksi". Mungkin Abah juga pada saat itu masih sama sepertiku, berbentuk air yang hina. Tapi akhirnya banyak dari kami yang lupa dengan perjanjian itu, sehingga benar-benar dalam kehinaan.


Oleh karena itu di rahim ibu, abah menitipkanku supaya suatu saat nanti aku akan selalu ingat tentang hari perjanjian itu, sehingga tidak termasuk dalam kehinaan. Maka Abah dan ibuku selalu bertugas mengingatkanku, dan Allah yang memberi petunjuk.


Sejak di dalam rahim ibu, aku di isolasi dari dunia luar, termasuk dari Abahku. Aku mengerti, itu demi tujuan untuk menjadi mulia, makanya harus dikarantina. Tapi jika Abah rindu, maka dia akan menengokku pada waktu-waktu tertentu, sesuai kesepakatan dengan Ibuku. Aku tidak tahu apa yang aku lakukan, maklumlah belum mengerti.


Tidak harus aku ceritakan bagaimana di rahim ibuku sana, itu rahasia anak dan Ibu. Lebih berkesan jika disimpan, daripada diceritakan.


Setelah habis masa karantina selama sembilan bulan, maka aku bertemu dengan Abah. Itu adalah masa-masa yang indah bagi kami. Ada tangis bahagia bersama kami, Ibuku menangis, aku juga menangis, abah juga menangis, tapi menangisnya di dalam hati karena malu sama kumis. Sebagai lulusan pertama dari rahim ibu, Abah bangga sekali.


Aku kira untuk menjadi mulia itu cukup dengan di karantina selama sembilan bulan saja disana, tapi nyatanya tidak. Ketika abah menggendongku, aku tahu dia berkata di dalam hatinya, "Nak, kau sudah belajar teori untuk menjadi mulia di rahim ibumu. Ini dunia sebagai tempat engkau mempraktekan teori itu". Kalian tahu apa yang aku lakukan ketika tahu perjalanan menjadi mulia baru dimulai? Aku menangis lagi di pangkuan abah. Abah mencoba menenangkanku, dia seolah-olah mengatakan, "kalem Nak, akan aku ajari bagaimana caranya menjadi mulia, itu gampang, salah satu caranya adalah tiru aku".


Sejak saat itu aku berusaha menirunya. Tapi untuk menirunya tidak selalu gampang. Karena ternyata di dunia itu tidak hanya ada abah dan ibuku saja. Ada orang lain juga, yang berusaha meyakinkan aku untuk meniru mereka. Sehingga aku menjadi bingung. Kemudian abah berusaha menenangkanku, seolah-olah di mengatakan, "Tenang, Nak, akan aku ingatkan dan ajarkan, mana yang boleh kau tiru dan mana yang tidak boleh. Untuk menjadi mulia, kau harus meniru manusia yang mulia juga, itu adalah Nabi Muhammad SAW. Aku juga menirunya"


Ketika aku mulai bisa berbicara dan bisa menyebutkan beberapa kata, aku mulai meniru apa yang aku temui. Ketika banyak yang ngomong "anjing", aku pun menirunya. Akhirnya aku jadi suka ngomong "anjing". Abah tidak suka, Ibuku juga. karena itu adalah bahasa kasar dalam budaya kami. Disentilnya pelan mulutku ini, supaya aku tahu itu tidak boleh diucapkan. Semakin mereka menyentil mulutku, semakin aku ucapkan kata "anjing" itu. Waktu itu Aku tidak tahu, kenapa kata itu tidak boleh diucapkan.


Ketika aku kecil, aku melihat pisau tergelatak. Maka aku memainkannya. Ibu ketakutan melihatnya, kemudian dia mengambilnya dariku. Setelah ibu merebut pisau itu aku menangis, karena ingin tahu dan memainkan pisau itu. Kemudian Abah memberikannya sambil berkata kepada ibu, "Dia belum tahu itu bahaya dan bisa membuatnya terluka jika tidak hati-hati, biarkan dia mencobanya, setelah tahu nanti dia tidak akan bermain-main dengan itu lagi". Kemudian aku memainkan pisau itu. Karena ketidak tahuanku, maka pisau yang aku mainkan itu membuat tanganku terluka. Aku menangis karena sakit dan menjauhi pisau itu. Kemudian Abah memberikan pisau itu kembali, tapi aku jadi tidak mau memainkannya. Soalnya di rahim ibuku tidak diberikan materi tentang pisau, jadi aku tidak tahu. Nanti saja kalau sudah besar aku belajar.


Kau tahu Abahku, dia adalah yang pernah mengajakku naik angkot tanpa memakai sendal membeli ikan koki di pasar ikan. Aku tadinya ingin meniru ikan koki juga, tapi tidak jadi, karena harus tidur di aquarium. Kenapa aku diajaknya membeli ikan koki? Oh mungkin supaya tahu kalau di dunia ini juga ada binatang yang harus disayang.


Sebagai air yang hina, yang pernah ada di dalam tubuhnya, abah terus mengingatkanku untuk menjadi mulia. Waktu kecil dulu aku malas untuk mengaji, kemudian Abah marah dan memukulku. Abah memukul telapak kakiku dengan sapu lidi, dan aku tahu pukulannya itu tidak keras, bahkan tidak membekas di kakiku. Tapi aku tahu itu Abah yang sedang marah, dan itu yang membuatku menangis. Kalau saja kak seto tahu, dia pasti akan marah pada Abah. Tapi waktu itu kak Seto masih belum eksis melindungi anak-anak. Kak seto masih asik menjadi si Komo.


Hari ini aku bersyukur, Abah pernah marah dan memukul ketika aku tidak mau mengaji. Itu dia lakukan supaya aku tidak selalu menuruti kemalasanku. Bagaimana aku bisa menjadi mulia, kalau aku selalu menuruti kemalasanku.


Kalian juga harus tahu, meskipun nilai ujian sekolahku kecil, Abah tidak pernah marah, apalagi memukul. Sewaktu aku masih remaja dulu, Abah juga tidak pernah marah ketika aku pulang larut malam atau bahkan subuh. Tapi yang membuatnya marah adalah ketika aku pulang dalam keadaan belum shalat. Aku sempat bingung, ada ayah kawanku yang akan marah jika anaknya mendapat nilai kecil atau pulang larut malam, tapi tidak marah kalau lupa shalat. Kenapa berbeda dengan Abahku? Ternyata aku tahu hari ini, itu demi tujuannya untuk merubah air yang hina menjadi mulia.


Iya itu Abahku, yang Namanya Ali. Banyak yang suka menjual batu Abah, karena sedang ngetrend akhir-akhir ini, terkenal dengan sebutan batu Ali. Abahku sering heran, kenapa orang-orang kembali ke zaman batu, padahal sekarang sudah zaman internet. Tapi itulah kenyataannya, mungkin untuk nostalgia kepada penadahulunya, Meganthropus Paleojavanicus. Tapi Abahku disni malah memainkan whatsup, facebook, twitter, line, dan viber, bukan memainkan batu Ali.


Iya itu Abahku, yang ketika muda dulu berambut gondrong sebahu dan melamar ibuku yang santri. Untung ibuku tidak menyuruhnya untuk memotong rambut, nanti bisa hilang kekuatan Abah, kaya Samson. Iya itu Ibuku, yang mau dengan Abah, yang memakai ikat kepala dan bergaya selengehan. Sehingga akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih dan membuat Abah bisa apel ke kontrakan ibuku yang berada di depan rumahnya. Kemudian Abah akan mengajak ibuku pergi makan batagor unus pada hari jumat, karena waktu itu pesantren tempat ibu bersekolah libur. Kemudian kalian tahu mengapa abah mengajak ibu makan batagor setiap hari jumat? Karena dia tahu kalau sebenarnya Batagor Unus juga libur pada hari jumat. Maka setiap mengajak ibu ke sana, akhirnya selalu tidak jadi beli batagor karena tutup, dan berakhir dengan alternatif lain yaitu membeli gorengan. Jum’at selanjutnya, Abah mengajak Ibu ke Batagor Unus lagi, dan berkahir dengan membeli gorengan lagi. Kata Abah, itu adalah strategi.


Iya ini Abahku sekarang yang sudah tua, yang sebentar lagi akan pensiun. Sedang duduk melihat pertandingan UFC setiap malam di TV. Iya ini Abahku sekarang yang sudah ingin melihat aku menyalurkan Air yang hina miliku sendiri, sehingga menjadikannya mulia. Ibuku juga sudah tidak sabar. Tapi sabarlah Abah dan Ibu, aku harus mencari wanita yang tepat, untuk kemudian aku lantik dia sebagai istriku. Masa harus dicicil, hamil dulu baru melantik jadi istrinya kemudian, kan itu bukan tindakan orang mulia.


Iya inilah Abahku yang sudah tua yang menceritakan segala pengalaman hidupnya. Supaya kelak aku bisa belajar darinya, bahwa untuk menjadi mulia harus menyimpan dunia di tanganku bukan di hatiku. Iya inilah Abahku yang sudah tidak bisa begadang dan harus tidur ditemani ibu, karena besok harus mengahadapi kantornya. Iya inilah aku, yang belum ngantuk dan belum bisa ditemani wanita di dalam kamar. Oh ternyata aku masih harus belajar mandiri, tidur tanpa di temani.


Bandung, 6 Maret 2015



 
 
 

Comments


IMG_0242.JPG

Hi, Terimakasih
sudah mampir

Terimakasih sudah membaca. Mudah-mudahan menyenangkan dan tidak ngantuk :)

Let the posts
come to you.

Thanks for submitting!

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Pinterest

Let me know what's on your mind

Thanks for submitting!

cumacerita

bottom of page