top of page
Search

Beraku

  • Jul 29, 2022
  • 5 min read

Updated: Jul 30, 2022

Ini adalah pagi hari menjelang siang, ketika aku sedang di WC, berjongkok menghadap tembok dan juga membawa HP. Ini adalah ketika aku sedang membuang sesuatu yang harus dibuang, sebagai mekanisme tubuh dalam mengeluarkan sampah didalamnya. Banyak istilah untuk menyebut aktivitas tersebut, ada yang menyebutnya



Ini adalah pagi hari menjelang siang, ketika aku sedang di WC, berjongkok menghadap tembok dan juga membawa HP. Ini adalah ketika aku sedang membuang sesuatu yang harus dibuang, sebagai mekanisme tubuh dalam mengeluarkan sampah didalamnya. Banyak istilah untuk menyebut aktivitas tersebut, ada yang menyebutnya berak, ada yang menyebutnya ee, ada yang menyebutnya panggilan alam, ada yang menyebutnya setor, ada yang menyebutnya semedi, ada yang menyebutnya miceun, modol, ngising, atau juga singing. Jangan aneh jika harus banyak istilah untuk menyebutnya, itu karena orang senang melakukannya, siapapun itu, apapun pangkatnya, apapun profesinya, bagaimanapun moralnya, berapapun usianya, orang suka melakukan aktivitas tersebut. Mungkin kalian pikir, ini tidak penting untuk ditulis, tapi aku pikir ini sesuatu yang bagus untuk aku abadikan lewat sebuah tulisan. Meskipun sudah canggih, aku lebih senang menuangkannya dalam bentuk tulisan, bukan foto atau vidio, karena itu membatasi imajinasi untuk membayangkan aktivitas yang sungguh sudah menjadi kebutuhan manusia di muka bumi.


Aku dan keluarga mempunyai tempat khusus untuk berak, kami menyebutnya WC. Kalian tau WC? itu adalah suatu tempat yang bisa membuat kita merasa kesepian, karena harus berada sendirian di dalamnya. Kecuali waktu kecil dulu, aku pernah mandi bersama kawan-kawanku. Tapi sekarang sudah tidak berani. Kami merasa malu untuk melakukannya, karena sudah berubah menjadi besar. Tapi kalau kalian ke Mall atau tempat semacamnya, WC biasa digunakan beramai-ramai, hanya dibedakan berdasarkan jenis kelaminnya saja. Akan aku beritahu tandanya, agar kalian tidak tertukar masuk WC. Jika ada gambar orang memakai rok dengan dan di kepalanya berambut panjang, maka itu WC untuk wanita. Tapi jika ada gambar orang tidak memakai rok dan kepalanya bulat, itu untuk laki-laki.


Pernah suatu saat ketika rambutku lumayan panjang, aku ingin memakai sarung ke Mall, tujuannya agar bisa kencing di wc wanita. Sehingga nanti kalau ada yang marah, aku bisa punya alasan sambil memperlihatkan gambar tanda tadi, “ini gambarnya juga pakai sarung, rambutnya juga panjang” Kalau mereka masih marah akan aku bilang lagi, “Masa wanita yang pakai celana panjang dan berambut pendek saja boleh masuk ke tempat ini. Harusnya ke WC laki-laki dong”. Tapi aku urungkan keinginanku tadi. Padahal katanya emansipasi, tapi WC-nya dipisah, kalau ada wanita masuk WC laki-laki, laki-laki tidak akan marah, tapi sebaliknya jika ada laki-laki masuk WC wanita, wanita pasti akan marah dan menganggapnya cabul. Ya begitulah emansipasi di sini. Tidak harus aku jelaskan, nanti akan panjang.


Baiklah kembali kepada cerita WC. Tidak usah aku ceritakan bagaimana bentuk WC dirumahku, karena itu tidak penting. Yang jelas itu adalah WC gaya indonesia, yang ada kloset, ada tempat sabun, ada bak, ada ember atau jolang, ada keran air, ada pasta gigi, ada gayung, ada shampo, ada gantungan, ada kuman, kadang ada kecoa, yang paling menenangkan ada pintu, yang menjaga kami dari kontak dunia luar. WC adalah ruang isolasi yang digunakan untuk urusan pribadi. Aku tidak mau WC gaya barat, karena biasanya suka ada tisue. Kalau ada tisue nantinya kaya di rumah makan. Aku juga tidak suka toilet duduk, karena trauma. Dulu pernah ketika aku kecil, berak di toilet duduk, dan pantatku masuk kedalamnya. Sangat tidak aman bagi keberlangsungan aktivitas berak. Maka toilet jongkok lebih aku sukai, karena bisa juga melatih otot kaki supaya kuat. Kesannya seperti berlatih kungfu, ada posisi kuda-kudanya.


Oh iya, selain berak, WC di rumahku juga bisa dipakai pipis, mandi dan apapun yang terkait dengannya. Aku bersyukur, WC di rumahku gratis, tidak harus membayar jika sudah beres melakukannya. Meskipun dulu sempat terpikir untuk membuat kencleng di depan WC, supaya aku bisa menambah penghasilan. Namun aku mengurungkan pikiran itu, karena nanti bisa merusak reputasiku. Bisa jadi nanti aku disebut cowo matre. Biarlah kami sekeluarga menjadi yang tulus, tanpa harus memungut bayaran di WC.


WC di rumahku adalah satu-satunya tempat, yang jika kawanku berkunjung, tidak aku ajak kesana. Kalau kawanku ingin memasukinya, harus sendiri saja, biar terasa seperti uji nyali di televisi berhantu. Jika sudah tidak kuat di WC tinggal lambaikan tangan ke arah keran untuk menyudahi segala apa yang kita lakukan. Aku selalu berpesan kepada orang yang di WC supaya memakai celananya jika mau kembali ke dunia luar. Biar efektif dan tidak ada yang lupa, nanti aku akan buat tulisannya di WC, "Ini WC, silahkan kalau mau telanjang juga. Tapi jika keluar dari sini, mohon segera dilengkapi penutup tubuhnya. Terimakasih". Tulisan itu tinggal di print untuk nanti aku pajang di WC rumahku. Aku tidak tahu kenapa Abah (ayah) membangun WC posisinya di belakang. Padahal di depan saja, biar nanti kalau ada orang yang mau ikut ke belakang, bisa tertipu. Dikiranya itu WC, padahal dapur.


Kalian tahu, di WC itu jangan bersuara, nyanyi-nyanyi, apalagi berdiskusi atau orasi. Karena WC bukan tempat karouke atau ruangan rapat yang bisa kita seenaknya ngomong apapun disana. Heninglah disana, biar orang-orang luar tahu, kalau kita orang dalam WC sedang khusyu melakukan sesuatu. Kecuali bunyi air yang mengalir dari keran ke bak, itu boleh bersuara.


Iya, ini aku masih berak. Masih belum ada tanda ingin berhenti. Harus terus aku tuntaskan. Oh iya akan aku ceritakan tentang berak, karena berak adalah sesuatu yang penuh makna. Dulu, abahku pernah bercerita tentang kakekku yang mengatakan kalau berbuat baik itu harus seperti berak atau ee. Ini bukan jorok, tapi ini serius. Kalian bisa bayangkan bagaimana kalau kita ingin berak? Tidak ada yang mau menahannya, kita ingin segera melakukannya. Begitu juga dengan berbuat baik, kita tidak bisa menanhannya, ingin sesegera mungkin melakukannya. Kalian pernah menahan berak? Jika kalian tahan akan merasa gelisah, berkeringat, tidak fokus, mondar-mandir kesana-kemari, yang ada dalam pikiran kalian hanya cara untuk menyalurkan berak itu. Begitu juga dengan berbuat baik, jika kita menahannya akan merasa gelisah, resah, tidak enak perasaan, yang ada dalam pikiran kita bagaimana caranya menyalurkan kebaikan itu. Kalian pernah merasa malu karena ketahuan berak? Mudah-mudahan tidak pernah mengalaminya, karena itu bisa membuat kalian malu. Begitu juga dengan berbuat kebaikan. Dalam melakukan kebaikan jangan pernah ingin diketahui orang lain, dan malu lah kalian jika berbuat kebaikan ingin diketahui orang lain, seperti berak. Kalian pernah merasa sayang dengan sesuatu yang kalian keluarkan saat berak? Tidak pernahkan? Kalian tidak harap berak itu kembali kepada kalian, dan menghitung berapa jumlah berak yang kalian keluarkan. Kalian ikhlas mengeluarkannya. Belum pernah ada orang yang berkata, “Aduh lebar euy, taina palid kaditu (aduh sayang euy, tainya mengalir kesana)”. Begitu juga dengan berbuat kebaikan, jangan pernah merasa sayang dengan apa yang kita keluarkan. Apalagi menghitung banyaknya yang kita keluarkan. Kemudian orang lain membalsnya. Harus ikhlas dan tulus seperti berak.


Itulah berak, yang menjadi filosofi hidup keluargaku. Mungkin kalian merasa jijik dengan berak, padahal kalian pun harus melakukannya. Kalian tahu, ini aku masih berak. Jadi aku hentikan dulu menulis tentangnya. Biarlah aku menikmatinya. Kalian pun pasti menikamtinya. Biarkanlah kenikmatan berak itu hanya kita masing-masing yang tahu. Percayalah, orang yang tidak mengalami kenikamatan berak, berarti orang tersebut sedang sakit. Tanyalah Dokter kalau begitu.


Terimakasih sudah membaca, maaf aku harus meneruskan berakku. Dan, itu sudah ada yang bilang bau di luar.


Bandung, 14 Februari 2015

Saat berak di WC



 
 
 

Comments


IMG_0242.JPG

Hi, Terimakasih
sudah mampir

Terimakasih sudah membaca. Mudah-mudahan menyenangkan dan tidak ngantuk :)

Let the posts
come to you.

Thanks for submitting!

  • Facebook
  • Instagram
  • Twitter
  • Pinterest

Let me know what's on your mind

Thanks for submitting!

cumacerita

bottom of page